Isu keamanan mobil listrik kembali mencuat setelah beberapa insiden kebakaran terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Namun di tengah kekhawatiran publik, baterai yang kerap dituding sebagai penyebab utama justru belum pernah terbukti menjadi sumber masalah dalam kasus-kasus tersebut. Menurut Mahindra Gofar, pendiri EVSafe dan dosen di National Battery Research Institute, hingga saat ini belum ada bukti bahwa kebakaran kendaraan listrik di Indonesia dipicu langsung oleh baterai, termasuk fenomena thermal runaway. “Selama ini dari beberapa insiden yang terjadi, belum ada yang terbukti berasal dari baterai. Umumnya justru dipicu faktor eksternal, seperti sistem kelistrikan atau perangkat pengisian daya,” kata Gofar saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (16/3/2026). Ia menjelaskan, banyak masyarakat masih salah kaprah dalam memahami karakteristik kebakaran pada mobil listrik. Padahal, jika kebakaran benar-benar disebabkan oleh thermal runaway pada baterai, prosesnya biasanya sulit dipadamkan dan berpotensi menyala kembali. “Kalau memang thermal runaway, api tidak mudah padam dan ada risiko menyala lagi. Tapi beberapa kasus yang terjadi justru cepat dipadamkan, jadi indikasinya bukan dari baterai,” ujarnya. Wuling Air EV terbakar di Bandung Sejumlah insiden di Indonesia memang sempat menyita perhatian publik, namun jumlahnya masih terbatas dan bisa dihitung jari. Salah satunya adalah kebakaran Wuling Air EV di Bandung pada 2025. Dalam penelusurannya, tidak ditemukan indikasi kerusakan pada baterai tegangan tinggi, sementara sumber api diduga berasal dari bagian depan kendaraan yang berisi komponen kelistrikan. Kasus lain juga terjadi pada mobil listrik DFSK di Jakarta Selatan. Dalam kejadian tersebut, api dilaporkan dapat dipadamkan dalam waktu relatif singkat, sekitar 20 menit. Menurut Gofar, hal ini menjadi indikator kuat bahwa kebakaran tersebut bukan disebabkan oleh thermal runaway pada baterai. Insiden mobil listrik DFSK Gelora E terbakar di Tol JORR viral di media sosial. Pabrikan memastikan tak ada korban dan investigasi masih berjalan. “Kalau kasus di Jakarta Selatan itu, api bisa padam cepat. Kalau dari baterai, biasanya ada potensi menyala lagi atau re-ignition. Ini tidak terjadi, jadi bukan thermal runaway,” kata dia. Selain itu, insiden juga sempat melibatkan BYD Seal di Jakarta Barat pada 2025. Awalnya peristiwa tersebut disebut sebagai kebakaran, namun hasil investigasi pabrikan menunjukkan sumber masalah berasal dari korsleting pada sistem tegangan rendah (low voltage battery), bukan baterai utama kendaraan listrik. BYD Seal terbakar di Palmerah, Jakarta Barat Insiden lain dilaporkan melibatkan Hyundai Ioniq 5 di Medan pada 2026 saat kendaraan berada di area bengkel. Analisis penyebab mengarah pada gangguan sistem kelistrikan tegangan rendah, bukan baterai utama, meski penyelidikan belum sepenuhnya final. Ada pula kasus kebakaran di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, yang melibatkan mobil listrik Wuling BinguoEV di dalam rumah. Berdasarkan dugaan awal, api berasal dari percikan saat proses pengecasan yang kemudian menyambar bahan mudah terbakar seperti thinner dan cat, sehingga sumbernya diduga berasal dari faktor eksternal, bukan baterai utama kendaraan. Ia menambahkan, sejumlah faktor eksternal seperti sistem tegangan rendah (low voltage), instalasi kelistrikan tambahan, hingga perangkat wallbox atau charger juga bisa menjadi pemicu insiden jika tidak dalam kondisi optimal. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua kebakaran mobil listrik berkaitan dengan baterai utama. Oleh karena itu, Gofar menekankan pentingnya investigasi menyeluruh sebelum menarik kesimpulan yang bisa menyesatkan persepsi publik. Dengan meningkatnya populasi kendaraan listrik di Indonesia, edukasi terkait karakteristik dan potensi risiko menjadi semakin penting. Alih-alih langsung menyalahkan baterai, masyarakat diimbau memahami bahwa sumber masalah bisa berasal dari berbagai aspek di luar sistem penyimpanan energi tersebut. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang