Rendahnya kesadaran keselamatan berlalu lintas di Indonesia tidak hanya berdampak pada tingginya angka pelanggaran dan kecelakaan, tetapi juga memicu persoalan psikologis bagi para pengendara. Tekanan mental akibat kondisi lalu lintas yang semrawut dapat memengaruhi emosi, perilaku, hingga kualitas hidup sehari-hari. Praktisi psikologi Universitas Indonesia, Anna Surtinina, menjelaskan bahwa situasi lalu lintas yang tidak tertib dan penuh tekanan dapat memunculkan stres, khususnya distres, serta kecemasan. Kondisi ini kerap dialami pengendara yang diburu waktu, harus berangkat lebih pagi, atau memiliki beban tanggung jawab di rumah maupun tempat kerja. “Secara psikologis, kondisi lalu lintas seperti itu bisa memunculkan stres dan kecemasan. Saat berkendara, pengendara juga bisa menjadi lebih agresif, misalnya sulit menahan diri untuk tidak mengebut atau menyalip kendaraan lain padahal kondisinya tidak memungkinkan,” kata Anna kepada Kompas.com, Jumat (23/1/2026). Ilustrasi mengantuk saat mengemudi Ia menambahkan, agresivitas yang muncul saat berkendara justru meningkatkan risiko kecelakaan. Dalam jangka panjang, tekanan mental akibat lalu lintas juga dapat berdampak pada performa kerja, mulai dari menurunnya konsentrasi, kelelahan berkepanjangan, hingga emosi yang semakin sulit dikendalikan. “Orang yang sering terpapar kemacetan dan tekanan di jalan biasanya jadi lebih mudah tersinggung dan marah. Ini bisa berimbas ke relasi dengan orang-orang di sekitarnya, sehingga lebih rentan memicu konflik,” ujarnya. Dua Mobil Saling Pepet di Jalan, Pentingnya Redam Emosi Saat Berkendara Pandangan tersebut diperkuat oleh Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu. Menurut dia, persoalan lalu lintas di Indonesia berakar dari rendahnya kesadaran keselamatan yang membentuk pola pikir keliru dalam berkendara. “Kesadaran tentang keselamatan yang rendah itu akan membentuk pola pikir. Dari pola pikir itulah lahir perilaku. Kalau mindset-nya salah, perilakunya juga pasti salah, seperti tidak sabar, arogan, emosional, dan tidak tertib di jalan,” kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (22/1/2026). Jusri menjelaskan, pola pikir tersebut tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak usia dini. Anak-anak belajar berlalu lintas dari contoh sehari-hari yang mereka lihat, terutama dari orang tua dan lingkungan sekitar, bukan dari pendidikan formal. Pembiaran terhadap pelanggaran kecil, menurut Jusri, akan dianggap wajar dan terus terbawa hingga dewasa. Dalam situasi tertentu, perilaku buruk di jalan juga diperparah oleh faktor psikologis sesaat, seperti stres ekonomi, masalah pribadi, hingga kelelahan mental. Ia menilai, perubahan perilaku pengendara Indonesia saat berada di luar negeri menjadi bukti bahwa perilaku berkendara bisa dikendalikan ketika penegakan hukum berjalan tegas dan konsisten. “Orangnya sama, tapi begitu berada di negara dengan penegakan hukum yang kuat, perilakunya langsung berubah. Artinya, perilaku bisa dikendalikan, meskipun mindset dasarnya belum benar-benar terbentuk,” ujarnya. Dalam jangka panjang, Jusri menekankan pentingnya pendidikan keselamatan sejak dini yang melibatkan berbagai pihak. Namun, dalam kondisi saat ini, ia menilai penegakan hukum yang konsisten menjadi langkah paling realistis untuk menekan perilaku agresif dan tidak tertib di jalan raya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang