Intensitas hujan yang tinggi membuat risiko kecelakaan di jalan meningkat, salah satunya akibat aquaplaning. Kondisi ini kerap terjadi tanpa disadari pengendara dan bisa berujung pada hilangnya kendali kendaraan. Aquaplaning merupakan situasi ketika ban tidak mampu menapak sempurna di permukaan jalan karena terhalang lapisan air. Akibatnya, traksi hilang dan kendaraan seperti “mengapung”, sehingga respons kemudi maupun pengereman menjadi sangat terbatas. Selama ini, masih banyak pengendara yang mengaitkan aquaplaning semata-mata dengan kecepatan tinggi. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ada sejumlah faktor lain yang turut berperan dan tidak kalah penting untuk diperhatikan. Aquaplaning merupakan risiko yang mengintai pengendara saat berkendara di musim hujan. Pakar ban mobil, Zulpata Zainal, menjelaskan bahwa penyebab aquaplaning tidak bisa dilihat dari satu aspek saja. Selain kecepatan, kondisi ban menjadi faktor krusial. Ban yang sudah aus atau berada di bawah batas Tread Wear Indicator (TWI) akan lebih mudah kehilangan daya cengkeram saat melintasi genangan air. Tekanan udara ban juga berpengaruh besar. Ban dengan tekanan yang kurang dari rekomendasi pabrikan meningkatkan risiko aquaplaning. Selain itu, bobot kendaraan turut menentukan, di mana kendaraan yang lebih ringan cenderung lebih mudah mengalami kondisi tersebut dibandingkan kendaraan berat. Faktor lainnya adalah kedalaman genangan air dan desain kembangan ban. Semakin dalam genangan, semakin besar peluang aquaplaning terjadi. Begitu pula dengan pola kembangan ban, terutama jika sodetan pada telapak ban bagian dalam sudah menipis dan tidak optimal dalam membuang air. Ilustrasi aquaplaning "Jadi, tidak bisa dijadikan patokan, misalnya, kecepatan 60-70 kilometer per jam akan terjadi aquaplaning kalau melibas genangan air. Tergantung bobot kendaraan juga, ketinggian air, kedalaman alur ban, dan lain-lain," kata Zulpata, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu. "Contoh saja, truk muatan penuh, melibas genangan air sangat susah untuk terjadinya aquaplaning. Sebab, muatan yang berat, meskipun bannya gundul, yang terjadi selip saja, bukan aquaplaning," ujar Zulpata. Untuk meminimalkan risiko, pengendara disarankan rutin memeriksa kondisi ban, memastikan tekanan udara sesuai standar, serta mengurangi kecepatan saat melintasi jalan basah atau tergenang. Pemahaman yang tepat mengenai aquaplaning dan faktor pemicunya menjadi kunci agar perjalanan tetap aman, khususnya di musim hujan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang