Tol Cipularang kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kecelakaan terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Insiden terbaru di KM 111 arah Jakarta yang melibatkan sembilan kendaraan pada 2 Desember 2025 menambah panjang daftar kejadian di titik rawan ini. Beberapa bulan sebelumnya, kecelakaan beruntun di KM 91+800 juga terjadi karena truk mengalami gangguan pengereman. Selain faktor cuaca dan kelalaian pengemudi, sebagian kasus juga berkaitan dengan karakteristik jalurnya sendiri. Kontur jalan yang menurun, tikungan panjang, serta lalu lintas kendaraan berat membuat pengendara dituntut lebih waspada saat melintas, terutama di titik-titik yang kerap menjadi lokasi insiden. Selain karena cuaca, faktor geometri jalan dan lalu lintas kendaraan berat juga menjadi tantangan bagi pengendara di Tol Cipularang. Kompol Joko Prianto, SH menyebutkan bahwa sejumlah titik memiliki kontur menurun dan tikungan yang membuat kendaraan rentan oleng jika pengemudi melaju terlalu cepat. “Di beberapa lokasi ada turunan dan belokan ke kiri. Kalau ada yang ngerem mendadak di depan, posisi kendaraan bisa oleng karena kecepatan tinggi,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (4/12/2025). Tol Cipularang. Jalan Tol Cikampek?Purwakarta?Padalarang atau yang lebih dikenal sebagai Tol Cipularang, tidak hanya dikenal sebagai jalur penghubung utama antara Jakarta dan Bandung, tetapi juga menyimpan kisah-kisah urban legend yang melegenda hingga kini. Ia menambahkan bahwa di jalur tersebut banyak kendaraan berat yang bergerak lebih pelan saat menuruni jalan. Pengendara mobil pribadi sering kali tidak mengantisipasi perbedaan kecepatan ini, sehingga risiko tabrakan beruntun meningkat. Selain itu, Kompol Joko mengungkapkan bahwa kondisi rem kendaraan berat yang panas atau mengalami masalah juga menjadi penyebab kecelakaan yang sering terjadi. Rem blong pada truk maupun bus kerap menjadi pemicu insiden di jalur menurun. Dengan kombinasi tikungan, turunan, curah hujan tinggi, dan kendaraan berat yang melintas, pengemudi diwajibkan lebih disiplin menurunkan kecepatan dan menjaga jarak jauh. “Lebih hati-hati saja. Yang penting jangan dipaksakan,” ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang