Seiring meningkatnya jumlah kecelakaan di Tol Cipularang sepanjang akhir 2025, PJR memberikan sejumlah panduan yang dianggap krusial untuk dipatuhi pengemudi. Insiden kecelakaan yang melibatkan sembilan kendaraan di KM 111 arah Jakarta menjadi pengingat bahwa perilaku mengemudi berperan besar dalam mencegah insiden serupa. Layanan Induk PJR Cipularang, Kompol Joko Prianto, SH, menegaskan bahwa sebagian besar kecelakaan dipicu oleh kesalahan dasar pengemudi. Salah satunya adalah kurangnya konsentrasi dan kedisiplinan mengikuti rambu. Untuk itu, pihaknya mengimbau agar pengemudi lebih hati-hati dan menjaga konsentrasi. “Konsentrasi, ikuti rambu-rambu, jaga kecepatan dan jaga jarak aman,” tegasnya kepada Kompas.com, Kamis (4/12/2025). Tol Cipularang Kesalahan berikutnya adalah tidak menyesuaikan jarak aman dengan kondisi cuaca. Menurut Joko, saat hujan jarak aman harus diperpanjang dua kali lipat menjadi 40–50 meter untuk mengantisipasi jalan licin dan jarak pandang yang menurun. Pengemudi juga sering gagal membaca situasi khas Cipularang berupa jalur turunan yang dilalui kendaraan berat dengan kecepatan rendah. Akibatnya, banyak pengendara mobil pribadi terjebak di belakang truk tanpa jarak yang cukup. “Kita harus lebih jaga jarak, lebih jauh lagi,” kata Joko. Kecepatan yang terlalu tinggi turut berkontribusi terhadap banyak insiden. “Kalau lebih dari 100 km/jam itu susah dikendalikan,” ujar Joko. Ia juga mengingatkan agar pengemudi menghindari memaksakan perjalanan saat lelah atau ketika hujan deras, dan memastikan rem dalam kondisi prima untuk menghindari rem panas atau rem blong di turunan. Joko mengingatkan kembali bawha keselamatan harus lebih diutamakan daripada kecepatan. “Lebih baik lambat tapi selamat,” katanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang