— Masalah keselamatan berkendara bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga njadi tantangan global. Hampir di semua negara, berbagai pelanggaran di jalan raya memicu kecelakaan, mulai dari yang ringan hingga yang berujung fatal. Kalemdilat Polri, Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana menjelaskan, isu keselamatan jalan merupakan perhatian dunia. Berbagai pelanggaran yang sering terlihat di jalan merupakan faktor utama pemicu kecelakaan. Dua supercar ditilang di tol Jakarta, Sabtu (19/7/2025). "Kita semua menyadari bahwa tatkala berlalu lintas, kita seringkali melihat pelanggaran-pelanggaran. Pada konteks road safety global, mencanangkan beberapa poin yang harus ditindaklanjuti," ujarnya dalam webminar Road Safety Reflection 2025 & Action Agenda 2026, Selasa (23/12/2025). Helm dan Kecepatan Chryshnanda mengatakan, ada dua hal utama yang masih menjadi fokus perhatian global adalah penggunaan helm dan pengendalian kecepatan. "Pertama kaitan dengan helm, yang kedua dengan speed atau kecepatan," katanya. "Karena kecepatan yang minimal dilanggar akan terjadi perlambatan dan berbeda pada kemacetan, sedangkan kecepatan yang melampaui batas ini juga berbahaya, bisa menemukan korban fatal," tuturnya. Arus lalu lintas di Km 47 ruas jalan tol Jakarta - Cikampek, Rabu (24/12/2025) siang. Artinya, bukan hanya kecepatan tinggi yang berbahaya. Mengemudi terlalu pelan di jalur yang seharusnya bergerak normal pun bisa menimbulkan risiko, karena mengganggu alur lalu lintas dan memicu kecelakaan. Sementara itu, helm masih menjadi isu penting, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Banyak kecelakaan yang sebenarnya bisa diminimalkan dampaknya jika pengendara menggunakan helm dengan benar. Alkohol Masalah lain yang juga menjadi perhatian global adalah penggunaan alkohol saat berkendara serta keselamatan anak. Bahaya main ponsel saat mengemudi "Kemudian kaitannya dengan dream driving atau penggunaan alkohol pada saat bergendara, kemudian kaitan dengan childless train atau anak-anak yang selamat di dalam berkendara atau ini juga banyak atau bisa dikaitkan dengan anak-anak yang masih di bawah umur tapi sudah mengendarai motor di jalan raya dan seatbelt atau sabuk keselamatan," katanya. Pengemudi yang berada di bawah pengaruh alkohol, memiliki risiko kecelakaan jauh lebih tinggi karena refleks melambat dan kemampuan mengambil keputusan menurun. Sementara itu, banyak negara, termasuk Indonesia, masih menghadapi masalah anak di bawah umur yang sudah mengendarai kendaraan bermotor. Selain itu, sabuk pengaman juga masih sering diabaikan. Padahal, sabuk pengaman merupakan perangkat keselamatan paling dasar yang terbukti menyelamatkan banyak nyawa. Lima orang luka-luka setelah mobil listrik menabrak sepeda motor, gerobak pedagang, dan seorang pejalan kaki di Jalan Swasembada Barat, Tanjung Priok. Gangguan Konsentrasi Chryshnanda juga menyoroti penggunaan gadget dan perilaku melawan arus, yang kini semakin sering ditemukan di berbagai negara termasuk Indonesia. "Kemudian kita juga menambahkan adanya bagaimana penggunaan gadget atau hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi di dalam bergendara dan kaitannya dengan melawan arus. "Ini semua merupakan pelanggaran yang berat, karena ini bisa berdampak terjadinya suatu kecelakaan lalu lintas," tegasnya. Impresi berkendara Omoda O9 Penggunaan ponsel saat mengemudi kini menjadi salah satu penyebab kecelakaan terbesar di dunia. Banyak pengemudi tergoda mengecek pesan, membuka media sosial, hingga mengoperasikan layar sentuh kendaraan saat mobil masih melaju. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang