JAKARTA, KOMPAS.com – Kecelakaan beruntun yang melibatkan bus PO Harapan Jaya di Simpang Empat Muning, Kediri, Jawa Timur, Jumat (23/1/2026), menyoroti kembali pentingnya disiplin berkendara, terutama dalam hal menjaga kecepatan dan melakukan manuver mendahului di jalan raya. Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, bus terlihat tetap melaju saat mendekati persimpangan. Kendaraan besar tersebut kemudian menabrak sejumlah kendaraan yang sedang berhenti menunggu lampu lalu lintas. Akibat peristiwa tersebut, sedikitnya 10 orang mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Dikutip dari yang telah , bus dengan trayek Trenggalek–Surabaya itu melaju dari arah Terminal Kota Kediri menuju Tulungagung dan Trenggalek. Saat melintasi Jalan Semeru, bus berwarna putih-oranye tersebut disebut melaju cukup kencang. Sesampainya di lokasi kejadian, pengemudi diduga berusaha mendahului kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Namun, manuver tersebut berujung kehilangan kendali hingga menabrak kendaraan yang sedang mengantre di lampu merah. Ilustrasi bus DAMRI perintis di Ponorogo, Jawa Timur. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menilai kasus ini memperlihatkan masih rendahnya pemahaman sebagian pengemudi terhadap manajemen kecepatan dan teknik mendahului yang aman. “Sering kali kita gagal paham soal kecepatan. Ngegas itu gampang, menambah kecepatan itu mudah. Tapi yang paling sulit adalah bagaimana kita mampu mengurangi kecepatan atau memberhentikan kendaraan dalam kondisi aman. Ini yang paling susah, dan banyak pengendara tidak kompeten dalam hal ini,” kata Sony, kepada Kompas.com, Sabtu (24/1/2026) Menurut Sony, mendahului kendaraan lain bukan sekadar memindahkan posisi kendaraan ke lajur kanan, tetapi membutuhkan perhitungan matang. “Mata harus benar-benar melihat ke depan, apakah ruangnya aman, apakah secara aturan lalu lintas tidak melanggar, dan banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan sebelum mendahului kendaraan di depan,” ujar Sony. Sony menambahkan, lokasi kecelakaan berada di kawasan perkotaan, tepat di persimpangan yang secara karakter lalu lintas sangat berbeda dengan jalan tol. “Ini terjadi di tengah kota, di persimpangan, saat kendaraan lain sedang berhenti menunggu lampu merah. Pertanyaannya, apakah pengemudi bus melihat kondisi tersebut dari jauh,” ucapnya. Ia menduga bus melaju dengan kecepatan tinggi setelah menempuh perjalanan antarkota yang panjang, sehingga sistem pengereman bekerja lebih berat. Sejumlah pengendara sepeda motor nekat melawan arus sebelum ditegur polisi di persimpangan Jalan Gajah Mada, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (27/10/2022). “Kalau proses operasional sebelumnya tidak tepat, seperti rem panas, bisa terjadi penurunan performa. Akhirnya, kendaraan di depan yang jadi ‘bemper’ untuk menghentikan bus,” kata Sony. Secara regulasi, batas kecepatan kendaraan di kawasan perkotaan jauh lebih rendah dibanding jalan bebas hambatan. Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013, di mana kecepatan maksimal 50 kpj untuk kawasan perkotaan dan 30 kpj untuk kawasan permukiman. Sony menyebut, untuk kendaraan besar seperti bus, kecepatan ideal di wilayah padat penduduk seharusnya berada di rentang 30–40 km per jam. “Kalau lalu lintas ramai dan padat, kecepatannya harus lebih rendah. Kalau kondisi kosong, maksimal sekitar 40 km per jam,” ujarnya. Namun, kenyataannya banyak kota di Indonesia menjadi daerah lintasan bus antarkota dan antarprovinsi. Hal ini membuat sebagian pengemudi tetap mempertahankan kecepatan tinggi demi mengejar waktu tempuh. “Mereka merasa hanya melintas, jadi tidak perlu terlalu menyesuaikan kecepatan, karena ada target waktu,” kata Sony. Menurut Sony, pengemudi kendaraan besar seharusnya menurunkan kecepatan secara sadar ketika memasuki wilayah perkotaan, tanpa harus menunggu rambu atau teguran. nya harus berubah. Begitu masuk kota, kecepatannya harus dikurangi, karena akan banyak penyeberang jalan, pesepeda, kendaraan roda dua, persimpangan, dan aktivitas lain,” ujarnya. Dengan kecepatan yang lebih rendah, pengemudi memiliki waktu reaksi lebih panjang dan ruang pengereman yang lebih aman. “Yang paling mudah dikendalikan itu kendaraan dengan kecepatan rendah. Kalau sudah tinggi, pengereman akan jauh lebih sulit dilakukan secara sempurna,” kata Sony. Kecelakaan di Kediri pun menjadi pengingat bahwa kemampuan mengemudi tidak hanya soal membawa kendaraan melaju cepat, tetapi juga memahami kapan harus menahan gas, mematuhi batas kecepatan, dan melakukan manuver mendahului secara aman, terutama di jalan arteri yang padat aktivitas. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang