Standar emisi Euro merupakan regulasi yang dibuat untuk membatasi kadar polutan dari kendaraan bermotor di Eropa. Aturan ini terus diperbarui dari Euro 0 hingga Euro 7 seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kualitas udara. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan standar Euro sebenarnya dimulai dari Euro 0 yakni yakni diterapkan mobil baru pada tahun 1991. “Pada tahapan ini, emisi partikulat (PM) pada mobil diesel belum dibatasi, angka NOx maksimal 1.600 mg/km, sementara di mobil bensin NOx dibatasi 1.000 mg/km,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Minggu (26/4/2026). Euro 1 mulai berlaku pada tahun 1992 sebagai standar awal. Pada tahap ini, emisi seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), dan nitrogen oksida (NOx) mulai dibatasi, serta catalytic converter mulai diwajibkan. Euro 2 diperkenalkan pada tahun 1996 dengan batas emisi yang lebih ketat. Pengurangan signifikan terjadi pada CO dan gabungan HC+NOx, sehingga kendaraan menjadi lebih ramah lingkungan dibanding sebelumnya. “Euro 3 mulai berlaku tahun 2000 dan menjadi titik penting karena emisi partikulat (PM) pada diesel mulai diperhatikan,” ucap Jayan. Ilustrasi asap knalpot Euro 4 diterapkan pada tahun 2005 dengan penurunan besar pada NOx dan PM. Standar ini banyak diadopsi oleh negara berkembang karena dianggap seimbang antara teknologi dan biaya. “Seperti di Indonesia, saat ini masih tahap Euro 4, selain itu Euro 5 masih terus didorong agar diterapkan,” ucap Jayan. Di Eropa, Euro 5 hadir pada tahun 2009 dengan pengetatan drastis terutama pada emisi partikulat diesel. Pada tahap ini, penggunaan diesel particulate filter (DPF) menjadi umum untuk menekan emisi. Kemacetan di atas flyover Slipi yang menghubungkan ruas Jalan Gstot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat dengan Jalan Letjen S. Parman, Jakarta Barat, Rabu (8/4/2026) Euro 6 mulai berlaku tahun 2014 dan terus diperbarui hingga versi Euro 6d. Standar ini sangat ketat terhadap NOx, khususnya pada mesin diesel yang sebelumnya dikenal lebih tinggi emisinya. Pada Euro 6, batas NOx diesel diturunkan hingga sekitar 80 mg/km dan partikulat menjadi sekitar 5 mg/km. Teknologi seperti selective catalytic reduction (SCR) dan AdBlue mulai digunakan secara luas. “Sampai saat ini sudah ada Euro 7, mulai April 2026, standar terbaru ini direncanakan berlaku sekitar tahun 2025 hingga 2027. Standar ini tidak hanya mengatur emisi gas buang, tetapi juga partikel dari rem dan ban,” ucap Jayan. Selain itu, Euro 7 menekankan pengujian dalam kondisi nyata atau real driving emission (RDE). Artinya, kendaraan harus tetap rendah emisi tidak hanya di laboratorium, tetapi juga saat digunakan sehari-hari. Secara umum, setiap peningkatan standar Euro selalu diikuti penurunan batas emisi yang signifikan. Hal ini mendorong produsen kendaraan untuk terus mengembangkan teknologi yang lebih bersih dan efisien. Kesimpulannya, standar Euro 1 hingga Euro 7 bertujuan mengurangi polusi udara dan dampaknya terhadap kesehatan. Semakin tinggi standar, semakin kecil emisi yang dihasilkan, namun juga menuntut kualitas bahan bakar dan perawatan yang lebih baik. Berikut daftar standar Euro dan batas emisi yang diperbolehkan di kendaraan bermotor: Euro 0: Petrol NOx 1.000 mg/km, Diesel NOx 1.600 mg/km, Diesel PM no limit. Euro 1: Petrol NOx 490 mg/km, Diesel NOx 780 mg/km, Diesel PM 140 mg/km Euro 2: Petrol NOx 250 mg/km, Diesel NOx 730 mg/km, Diesel PM 100 mg/km Euro 3: Petrol NOx 150 mg/km, Diesel NOx 500 mg/km, Diesel PM 50 mg/km Euro 4: Petrol NOx 80 mg/km, Diesel NOx 250 mg/km, Diesel PM 25 mg/km Euro 5: Petrol NOx 60 mg/km, Diesel NOx 180 mg/km, Diesel PM 5 mg/km Euro 6: Petrol NOx 60 mg/km, Diesel NOx 80 mg/km, Diesel PM 5 mg/km Euro 7: Partikulat ban dan kampas rem mulai diperhitungkan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang