JAKARTA, KOMPAS.com - Microsleep atau tertidur sesaat saat mengemudi masih menjadi salah satu ancaman terbesar di jalan tol. Kondisi ini kembali memicu kecelakaan fatal yang melibatkan sebuah Toyota Yaris dan truk Fuso di Jalan Tol Pekanbaru–Dumai, Riau, Sabtu (10/1/2026) pagi. Pengemudi Yaris, Agus Indriani (24), meninggal dunia di lokasi kejadian setelah mobil yang dikemudikannya menabrak bagian belakang truk. Kepala Satuan Patroli Jalan Raya (PJR) Ditlantas Polda Riau, AKBP Eko Baskara, mengatakan kecelakaan terjadi sekitar pukul 05.30 WIB di KM 28/00 A. “Lokasi kejadiannya di KM 28/00 A. Pengemudi mobil Toyota Yaris meninggal dunia di lokasi kejadian,” ujar Eko dikutip Kompas.com, Minggu (11/1/2026). Saat itu, mobil Yaris melaju dari arah Gerbang Tol Pekanbaru menuju Gerbang Tol Pinggir. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pengemudi diduga mengalami microsleep sehingga kehilangan kendali. Ilustrasi microsleep, microsleep saat berkendara “Diduga micro sleep pengemudi mobil Yaris, sehingga tidak mampu mengendalikan kendaraan dan menabrak bagian belakang truk Fuso yang berada di depannya,” kata Eko. Kasus ini kembali menegaskan bahwa microsleep bukan persoalan sepele, terutama pada kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Training Director Real Driving Centre (RDC) Marcell Kurniawan menjelaskan, microsleep terjadi ketika otak dipaksa terus bekerja, padahal tubuh sebenarnya sudah berada pada kondisi lelah dan membutuhkan istirahat. Menurut dia, karakter jalan tol yang cenderung lurus, minim tikungan, serta memiliki pemandangan monoton justru meningkatkan potensi terjadinya microsleep, terutama saat berkendara jarak jauh atau dini hari. “Rasa bosan dan minimnya stimulasi visual dapat membuat otak kehilangan kewaspadaan, sehingga pengemudi rentan terlelap tanpa sadar,” ujar Marcell. Ia menekankan bahwa kondisi kendaraan yang prima tidak akan banyak membantu jika pengemudi berada dalam kondisi lelah. Oleh karena itu, persiapan fisik sebelum perjalanan menjadi faktor utama keselamatan. “Pastikan tubuh cukup istirahat sebelum berkendara. Idealnya, berhenti setiap dua jam sekali untuk peregangan atau sekadar berjalan ringan agar sirkulasi darah kembali lancar,” kata dia. Selain faktor pengemudi, kenyamanan kabin juga turut memengaruhi tingkat kewaspadaan. “Suhu kabin yang terlalu dingin bisa membuat tubuh semakin rileks dan mengantuk. Ini perlu diantisipasi, terutama saat berkendara jarak jauh di jalan tol,” ujarnya. Untuk itu, apabila mulai muncul tanda-tanda mengantuk seperti mata berat, sering menguap, atau sulit fokus menjaga lajur kendaraan, pengemudi sebaiknya segera menepi ke rest area terdekat dan beristirahat. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang