Microsleep menjadi salah satu risiko terbesar saat berkendara jarak jauh, terutama di jalan tol yang cenderung monoton. Kondisi ini terjadi ketika pengemudi tertidur sangat singkat, hanya dalam hitungan detik, tetapi cukup untuk membuat kendaraan kehilangan kendali. Peristiwa paling baru, kecelakaan di Tol Jagorawi arah Bogor, Km 24, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, menjadi salah satu contoh dugaan kasus microsleep di jalan tol. Sedan Honda City menabrak pembatas jalan hingga terbalik, lalu tertabrak truk boks dari arah belakang. Dua orang dilaporkan mengalami luka-luka. Plt Kanit Gakkum Satlantas Polres Bogor Ipda Ares Rahman mengatakan, kecelakaan diduga berawal dari pengemudi yang mengalami microsleep. "Pengemudi Honda City mengantuk (microsleep) sehingga kendaraan menabrak pembatas jalan dan terbalik dengan posisi keempat roda di atas," kata Ares, dikutip , Minggu (8/2/2026). Training Director Real Driving Centre (RDC), Marcell Kurniawan, menjelaskan microsleep umumnya muncul akibat kelelahan dan pola berkendara yang monoton tanpa antisipasi. Banyak pengemudi tidak menyadari penurunan kewaspadaan yang terjadi secara bertahap. Kelelahan dan mengantuk menjadi salah satu penyebab microsleep. Microsleep berbahaya saat berkendara seperti mudik Lebaran. Simak tips mencegahnya! “Kebanyakan pengendara tidak berpikir panjang dan tidak melakukan antisipasi. Padahal, seharusnya pengemudi membangun kebiasaan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan menghindari setiap potensi bahaya,” ujar Marcell. Menurut Marcell, kondisi fisik dan mental harus dijaga sejak sebelum perjalanan dimulai. Kurang tidur dan memaksakan diri mengemudi dalam kondisi lelah dapat menurunkan kemampuan respons secara signifikan. Marcell menyarankan pengemudi menyiapkan pengemudi pengganti untuk perjalanan jauh, tidak memaksakan diri, tidur cukup sebelum berangkat, serta beristirahat minimal setiap dua jam selama perjalanan. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan microsleep tidak datang mendadak, tetapi melalui tahapan kelelahan. Biasanya tanda awal muncul setelah beberapa jam mengemudi. “Biasanya di tiga sampai empat jam pertama pengemudi mulai letih. Kalau diteruskan, masuk ke fase ngantuk berat. Di titik inilah microsleep terjadi,” ujar Sony. Ia menjelaskan, posisi duduk yang statis dalam waktu lama mempercepat terjadinya microsleep karena otak kehilangan rangsangan dan kemampuan merespons dengan baik. Seorang petugas polisi lalu lintas sedang mengamankan lokasi kecelakaan tunggal di ruas Tol Jagorawi, tepatnya di putaran Adipura arah Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/11/2024). “Ada perbedaan antara mengantuk dan microsleep. Saat mengantuk, yang tidur mata. Tapi saat microsleep, yang tidur adalah otaknya,” ucap Sony. Untuk mencegahnya, pengemudi disarankan tidur enam hingga delapan jam sebelum perjalanan. Waktu mengemudi idealnya dibatasi maksimal tiga jam sebelum berhenti beristirahat. Saat berhenti di rest area, pengemudi dianjurkan melakukan aktivitas ringan agar otot, saraf, dan otak kembali segar. Waktu istirahat minimal 15 menit, atau lebih lama bila kelelahan sudah terasa berat. Jika rasa kantuk tidak tertahankan, maka tidur singkat selama 30 hingga 60 menit dinilai jauh lebih aman dibanding memaksakan diri tetap melanjutkan perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang