Setiap insiden kebakaran mobil listrik kerap langsung dikaitkan dengan baterai. Stigma tersebut masih melekat kuat di benak masyarakat, meski penyebab kebakaran belum tentu berasal dari komponen utama kendaraan listrik itu. Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile, Cing Hok Rifin, mengatakan, anggapan bahwa baterai selalu menjadi sumber masalah muncul karena minimnya pemahaman publik terhadap karakteristik kendaraan listrik. Menurutnya, reaksi tersebut mirip dengan persepsi lama pada mobil bermesin bensin. "Kalau orang dengar mobil EV kebakar, pasti langsung bilang baterai. Sama seperti kalau mobil bensin kebakar, orang langsung menyebut mesinnya," kata Cing Hok Rifin kepada Kompas.com, Minggu (18/1/2026). Ia menjelaskan, tidak semua kebakaran pada kendaraan listrik berawal dari baterai traksi. Dari pengamatan awal terhadap sejumlah kasus, sejumlah komponen krusial justru ditemukan dalam kondisi utuh dan tidak menunjukkan tanda-tanda terbakar. Ia mencontohkan insiden yang melibatkan DFSK Gelora E, di mana hasil pengamatan menunjukkan tidak adanya indikasi baterai traksi terbakar. "Secara tampilan luar saja sudah terlihat, baterainya sama sekali tidak terbakar. Kabel tegangan tinggi, OBC, sampai MCU juga masih utuh," ujarnya. Cing menambahkan, pola kebakaran pada baterai mobil listrik memiliki ciri khas tersendiri. Petugas Pemadam Kebakaran Kota Medan sedang menyiramkan air ke mobil listrik yang terbakar di sebuah bengkel di di Jalan Sei Asahan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Rabu (7/1/2026). Umumnya, api muncul dari bagian bawah kendaraan dan menyebar ke kiri serta kanan lantai mobil. Namun, pola tersebut tidak selalu ditemukan pada kebakaran kendaraan listrik. Jika api justru menyebar dari bagian atas ke samping sementara area bawah tetap bersih, sumber kebakaran hampir bisa dipastikan bukan berasal dari baterai. "Kalau baterai yang terbakar, biasanya bentuk apinya dari bawah seperti huruf U. Kalau kebakaran dari atas ke samping sementara bagian bawah bersih, itu jelas bukan dari baterai," ucapnya. Ia menilai, stigma yang telanjur terbentuk berpotensi menimbulkan kesimpulan keliru sebelum proses investigasi dilakukan secara menyeluruh. Padahal, kebakaran kendaraan dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk dari dalam kabin maupun pengaruh eksternal lainnya. Cing berharap masyarakat dapat lebih objektif dalam menyikapi insiden yang melibatkan kendaraan listrik dan tidak langsung menyimpulkan baterai sebagai sumber masalah sebelum ada hasil pemeriksaan yang komprehensif. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang