Gagasan pengembangan kendaraan listrik karya anak bangsa dinilai perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas dari sekadar label “mobil nasional”. Fokus utama yang harus dibangun justru penguasaan pengetahuan dan hak kekayaan intelektual agar industri tidak terus bergantung pada pihak luar. “Kalau saya sih lebih menyebutnya bukan mobil nasional, tapi kendaraan listrik Indonesia,” ujar Harsusanto, Presiden Direktur PT Teknologi Militer Indonesia, kepada Kompas.com belum lama ini. Menurut Harsusanto, hakikat kendaraan listrik Indonesia tidak terletak pada wujud produknya semata, melainkan pada penguasaan intellectual property rights (IPR). Tanpa kendali atas teknologi dan desain inti, Indonesia berisiko hanya menjadi perakit atau pasar, bukan pemilik industri. “Hakikat kendaraan listrik Indonesia itu bukan sekadar produknya, tapi intellectual property rights-nya,” kata Harsusanto. Ia menegaskan, penguasaan IP menjadi kunci agar bangsa Indonesia memiliki posisi tawar dalam industri otomotif global. Dengan IP berada di tangan pengembang dalam negeri, arah pengembangan teknologi tidak mudah ditekan atau ditentukan pihak asing. Proyek mobil nasional I2C yang digarap oleh PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) “Kalau IP-nya sudah di tangan bangsa Indonesia, tidak ada bangsa lain yang bisa mendikte,” ujarnya. Harsusanto menilai, kemandirian teknologi hanya bisa tercapai jika proses pengembangan dilakukan dari dalam negeri, mulai dari riset hingga rekayasa. Pendekatan ini dianggap penting untuk memastikan keberlanjutan industri, bukan sekadar keberhasilan satu produk. “Ilmunya dari kita, pengembangannya dari kita,” kata Harsusanto. Ia pun menarik benang merah dengan sejarah industrialisasi Indonesia, khususnya pada era Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, yang menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama pembangunan industri strategis nasional. “Ini mengingatkan saya pada era Pak Habibie, ketika kita membangun industri berbasis pengetahuan,” ucapnya. Pandangan tersebut menegaskan bahwa tantangan kendaraan listrik Indonesia bukan hanya soal harga, produksi, atau volume penjualan. Lebih dari itu, keberhasilannya akan ditentukan oleh sejauh mana bangsa ini mampu menguasai ilmu, teknologi, dan kekayaan intelektualnya sendiri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang