Rencana pemerintah mendorong konversi hingga 120 juta sepeda motor berbahan bakar fosil menjadi listrik dinilai masih menghadapi tantangan besar di lapangan. Target ambisius tersebut bahkan dianggap belum realistis jika berkaca pada pelaksanaan program serupa sebelumnya. Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, mengatakan, capaian program konversi motor listrik sejauh ini masih jauh dari harapan. Hal tersebut menjadi indikator bahwa persoalan yang dihadapi tidak sesederhana meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. "Karena, program konversi berbasis subsidi yang sudah berjalan beberapa tahun lalu justru minim peminat dan realisasinya jauh di bawah target, sehingga masalah utamanya jelas bukan sekadar kurang sosialisasi," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Bengkel konversi motor listrik di Solo, bisa mengajukan subsidi Rp 10 juta dari pemerintah Menurut dia, persoalan mendasar justru terletak pada desain kebijakan yang belum sepenuhnya selaras dengan kondisi riil di lapangan. Skala peningkatan yang direncanakan pun dinilai terlalu besar dalam waktu singkat. Yannes menjelaskan, lonjakan target dari realisasi sekitar 1.500 unit menjadi 6 juta unit per tahun berarti peningkatan hingga 30 kali lipat. Kondisi ini menuntut kesiapan ekosistem yang jauh lebih matang, termasuk keberadaan ribuan bengkel konversi baru yang tersebar di berbagai daerah. "Padahal, dulu saja terbukti bahwa untuk skala kecil saja, kesiapan ekosistem masih lemah, mulai dari keterbatasan bengkel tersertifikasi dan tenaga ahli yang kompeten, proses administrasi perubahan STNK, SRUT, dan pengujian yang rumit, tidak adanya lembaga pembiayaan yang tertarik, hingga ketidakpastian skema subsidi yang membuat masyarakat ragu," kata Yannes. Konversi motor listrik Yamaha Vega ZR Slank Edition oleh Elders Elettrico Selain itu, aspek kepercayaan konsumen juga menjadi faktor krusial yang belum sepenuhnya terjawab hingga kini. Ketiadaan standar yang jelas dalam hal kualitas dan layanan membuat masyarakat masih ragu untuk beralih ke motor konversi. "Ditambah lagi, belum adanya jaminan mutu, layanan purna jual, serta pasar kendaraan konversi bekas. Hal ini menjadikan konversi sebagai pilihan yang berisiko bagi konsumen sepeda motor yang mayoritas berasal dari middle low class yang sangat sensitif terhadap jaminan kepastian uang serta mobilitas mereka," ujarnya. Dengan berbagai tantangan tersebut, upaya percepatan konversi motor listrik dinilai membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif. Tidak hanya dari sisi kebijakan, tetapi juga penguatan ekosistem, kepastian regulasi, serta peningkatan kepercayaan masyarakat agar target yang dicanangkan bisa lebih mendekati realita. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang