Pemerintah Indonesia terus mendorong peralihan kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik termasuk konversi kendaraan lama. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, dirinya ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas transisi energi nasional untuk menjalankan program tersebut. "Percepatan konversi kendaraan bermotor yang 120 juta motor memakai bensin, kita akan mencoba bertahap untuk melakukan konversi ke motor listrik," ujar Bahlil dikutip dari Kompas.com, Senin (9/3/2026). Namun, di balik ambisi besar tersebut, muncul pertanyaan mendasar terkait kesiapan di lapangan, khususnya dari sisi sumber daya manusia. Motor bahan bakar minyak yang sudah dikonversi menjadi motor lostrik batrei dipamerkan di Surabaya saat roadshow program konversi motor listrik, Sabtu (12/8/2023). Juru Bicara Komunitas Sepeda/Motor Listrik (KOSMIK) Indonesia, Hendro Sutono, menilai ada satu hal yang sering luput ketika membahas konversi 120 juta motor bensin menjadi motor listrik, yakni siapa yang akan mengerjakannya. "Pertanyaan ini bukan muncul tiba-tiba. Ini justru menjadi lanjutan dari kegelisahan yang sebelumnya bahwa ambisi besar sering kali tidak diiringi dengan kesiapan di lapangan," katanya kepada Kompas.com, Rabu (2/4/2026). "Dalam konteks itu, program pelatihan montir konversi ini bisa dibaca sebagai jawaban awal yang mulai terlihat bentuknya," kata Hendro. Menurut Hendro, selama ini diskusi publik lebih banyak berkutat pada baterai, subsidi, hingga harga kendaraan. Padahal, ada komponen yang jauh lebih mendasar dan kerap luput dari perhatian, yakni sumber daya manusia, khususnya para montir. Paket konversi motor listrik Ia menjelaskan, program pelatihan teknis konversi sepeda motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM melalui PPSDM KEBTKE merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut. "Program ini mungkin terlihat kecil, dengan kuota peserta yang terbatas dan pelaksanaan yang bertahap, tetapi memiliki peran sebagai faktor penentu dalam membangun fondasi ekosistem konversi," katanya. Namun menurut Hendro, ambisi mengonversi 120 juta motor bensin bukanlah target yang sederhana. Dalam perhitungannya, diperlukan kapasitas besar di tingkat pelaksana untuk mewujudkannya. "Jika dihitung secara kasar, maka angka tersebut berarti jutaan unit per tahun harus dikonversi dalam kurun waktu tertentu. Dalam skala seperti itu, tantangan utama bukan lagi teknologi, melainkan kapasitas pelaksana di lapangan," katanya. Ilustrasi paket konversi motor listrik buatan Nagara. Konversi motor listrik. Proses konversi motor listrik. "Jika satu montir mampu mengonversi 10 motor per bulan, maka dibutuhkan ratusan ribu montir untuk mendekati target 120 juta unit. Angka ini mungkin tidak presisi, tetapi cukup untuk menggambarkan skala tantangan yang sebenarnya," ungkapnya. Secara teknis, kata Hendro, motor listrik memang memiliki sistem yang lebih sederhana dibandingkan mesin pembakaran internal. Namun, hal tersebut tidak serta-merta membuat proses konversi menjadi mudah tanpa keahlian yang memadai. "Kesalahan dalam instalasi listrik, manajemen baterai, atau integrasi sistem dapat berdampak pada keselamatan pengguna," kata Hendro. Konversi motor listrik Yamaha Vega ZR Slank Edition oleh Elders Elettrico Karena itu, pelatihan montir dinilai menjadi faktor krusial dalam mendukung program konversi. Program pelatihan yang mencakup aspek regulasi, administrasi, serta praktik teknis memberikan bekal yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif. "Peserta tidak hanya memahami bagaimana cara mengonversi motor, tetapi juga bagaimana memastikan hasil konversi tersebut aman dan sesuai standar," ujar Hendro. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang