Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sedang menyiapkan insentif untuk program konversi motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik. Hal ini menyusul rencana pemerintah melakukan konversi terhadap 120 juta motor yang mulai dilakukan pada tahun ini. Menurut pandangan Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), kesiapan industri konversi motor listrik di Indonesia pada dasarnya sudah cukup siap, tetapi masih membutuhkan dukungan ekosistem dan kebijakan agar bisa optimal. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setiyadi mengatakan industri siap menjadi mitra pemerintah. “Pelaku industri siap mendukung penuh program percepatan konversi yang digenjot pemerintah. Baik konversi motor bensin menjadi motor listrik lewat modifikasi ataupun produk baru,” ucap Budi kepada KOMPAS.com, Jumat (27/3/2027). Dari sisi pelaku usaha, baik produsen, bengkel konversi, hingga rantai pasok, tidak ada hambatan besar untuk menjalankan program tersebut. Ilustrasi booth motor listrik Pacific di IIMS 2026 Aismoli menaungi berbagai pelaku industri, mulai dari produsen motor listrik hingga bengkel konversi. Saat ini sudah ada puluhan bengkel konversi dan industri pendukung yang terlibat dalam ekosistem tersebut. “Sudah jalan di tahun 2023 sampai 2024 untuk program konversi motor listrik, Ini menunjukkan bahwa secara struktur industri, fondasi konversi sudah tersedia dan bisa diperluas. Aismoli menilai fokus pemerintah pada konversi adalah langkah yang strategis karena jumlah motor BBM di Indonesia sangat besar. Test ride motor listrik Alva N3 “Konversi lebih cepat dibanding mengganti unit baru, dan tujuan awalnya memang untuk mengurangi emisi karbon, tapi misal konversi yang dimaksud adalah lewat pembelian produk baru kami lebih siap,” ucap Budi. Mereka juga mengingatkan bahwa tetap harus ada keseimbangan dengan produksi motor listrik baru. Mengingat saat ini sudah banyak produsen motor listrik di Tanah Air. Meski industri siap, Aismoli melihat masalah utama justru di sisi permintaan masyarakat yang masih rendah karena kesadaran terhadap program tersebut masih kurang. Test ride motor listrik Alva N3 “Masyarakat harus paham apa manfaatnya, biayanya berapa, bila mendapatkan insentif jadi berapa, dan ada beberapa keunggulan seperti pajak kendaraan yang murah dan dan sebagainya,” ucap Budi. Program konversi sangat bergantung pada dukungan subsidi pemerintah. Aismoli menyambut positif rencana lanjutan insentif karena dinilai penting untuk menarik minat masyarakat, menjaga keberlanjutan industri dan mempercepat adopsi kendaraan listrik. “Bagaimana pun biaya konversi motor listrik membutuhkan biaya lumayan, tergantung kapasitas baterai dan jenisnya, yang paling murah masih di atas Rp 10 juta, sekitar Rp 13 jutaan, bila dapat insentif akan lebih terjangkau,” ucap Budi. Dengan pertumbuhan jumlah pabrikan, bengkel, dan pelaku industri, Aismoli optimistis kapasitas produksi maupun konversi bisa mengikuti jika permintaan meningkat. Bahkan industri menyatakan siap memenuhi lonjakan permintaan jika sosialisasi dan insentif berjalan efektif. “Saat ini kami masih menunggu detail strategi pemerintah seperti apa, harapannya dapat meningkatkan minat masyarakat,” ucap Budi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang