Mobil listrik kerap disebut lebih minim perawatan dibandingkan mobil konvensional. Salah satu alasannya adalah jumlah komponen bergerak yang jauh lebih sedikit, sehingga dianggap memiliki potensi kerusakan yang lebih rendah. Namun, apakah anggapan ini sepenuhnya benar dari sisi teknis? Menurut Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe dan pengajar di National Battery Research Institute, mobil listrik memang memiliki keunggulan dalam hal kesederhanaan mekanis. “Secara desain, motor listrik jauh lebih sederhana dibanding mesin pembakaran internal. Tidak ada piston, katup, atau sistem pembakaran yang kompleks, sehingga potensi keausan mekanis juga lebih kecil,” kata Gofar kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2026). Gofar menjelaskan, pada mobil konvensional terdapat ratusan komponen bergerak yang bekerja secara simultan, mulai dari sistem pembakaran, transmisi, hingga sistem pendinginan mesin. Setiap komponen tersebut memiliki risiko aus atau rusak seiring waktu. Sebaliknya, mobil listrik mengandalkan motor listrik dan sistem penggerak yang lebih ringkas. Bahkan pada beberapa model, transmisi yang digunakan hanya satu percepatan (single speed), sehingga mengurangi kompleksitas sekaligus potensi gangguan teknis. Ilustrasi mobil listrik BAIC Arcfox aS Meski begitu, bukan berarti mobil listrik sepenuhnya bebas masalah. Gofar menegaskan bahwa ada komponen lain yang justru menjadi perhatian utama, seperti sistem baterai, perangkat elektronik, serta software yang mengatur seluruh operasional kendaraan. “Kalau di mobil listrik, tantangannya bergeser. Bukan lagi di mekanis, tapi ke sistem elektronik dan manajemen baterai. Jadi tetap ada potensi masalah, hanya jenisnya berbeda,” ujar dia. Di sisi lain, persepsi masyarakat yang menganggap mobil listrik “pasti lebih awet” juga perlu diluruskan. Keandalan kendaraan tetap sangat bergantung pada penggunaan, perawatan, serta kualitas komponen yang digunakan oleh pabrikan. Dengan demikian, klaim bahwa mobil listrik lebih jarang rusak memang memiliki dasar teknis, terutama dari sisi minimnya komponen bergerak. Namun, pengguna tetap perlu memahami bahwa setiap teknologi memiliki karakteristik dan potensi risiko masing-masing, sehingga tidak bisa disamaratakan sepenuhnya lebih unggul dalam semua aspek. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang