Kenaikan harga mobil yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan masyarakat menjadi salah satu faktor yang menekan daya beli konsumen otomotif di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Chief Economist Josua Pardede dari Permata Bank mengatakan, fenomena tersebut terutama dirasakan oleh kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi kontributor utama pasar kendaraan roda empat. Menurut dia, kenaikan pendapatan kelas menengah setiap tahun relatif terbatas, sementara harga mobil meningkat lebih cepat. Ilustrasi pembelian mobil. “Pendapatan kelas menengah rata-rata naik sekitar 3,5 persen per tahun. Sementara harga mobil bisa naik sekitar 5 sampai 7 persen per tahun,” ujar Josua dalam gelaran Media Iftar Toyota di Jakarta, Jumat (6/3/2026). Ketidakseimbangan tersebut membuat sebagian masyarakat harus menyesuaikan kemampuan belanjanya saat ingin membeli kendaraan. Ia menjelaskan, konsumen kini semakin rasional dalam mengambil keputusan pembelian mobil. Jika sebelumnya pembelian kendaraan sering didorong faktor kebanggaan atau prestise, kini pertimbangan finansial menjadi faktor utama. “Masyarakat sekarang lebih melihat keamanan dompetnya. Mereka menghitung apakah cicilan kredit masih sanggup dibayar atau tidak,” kata Josua. Oleh karena itu, konsumen juga semakin sensitif terhadap berbagai faktor biaya, mulai dari harga kendaraan, besaran cicilan kredit, konsumsi bahan bakar, hingga biaya perawatan kendaraan. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Menurut Josua, kondisi tersebut juga memicu fenomena downtrading di pasar otomotif yang merujuk pada perubahan pilihan konsumen ke produk yang lebih terjangkau ketika daya beli tertekan. Dalam konteks otomotif, sebagian konsumen yang sebelumnya mampu membeli mobil baru kini mulai mempertimbangkan opsi yang lebih murah, termasuk beralih ke mobil bekas. “Yang sebelumnya mungkin mampu membeli mobil baru, sekarang beralih ke mobil bekas,” ujar Josua. Ia menambahkan, kondisi tersebut ikut memengaruhi struktur pasar otomotif nasional yang saat ini masih didominasi kendaraan dengan harga relatif terjangkau. Fenomena ini turut memengaruhi struktur pasar otomotif nasional. Saat ini sekitar 70 hingga 80 persen penjualan mobil di Indonesia terkonsentrasi pada segmen kendaraan dengan harga di bawah Rp 300 juta. Di sisi lain, Josua menilai dinamika penjualan mobil sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Ia mencontohkan, ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas 5 persen bahkan mendekati 6 persen sebelum 2014 maupun sebelum pandemi, penjualan mobil nasional mampu bertahan di level sekitar 1 juta unit per tahun. Chief Economist Josua Pardede dari Permata Bank dalam gelaran Media Iftar Toyota di Jakarta, Jumat (6/3/2026). Namun dalam dua tahun terakhir, penjualan kendaraan mengalami penurunan seiring melambatnya momentum ekonomi. Meski demikian, Josua memperkirakan pasar otomotif nasional akan mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap. Ia memperkirakan penjualan mobil nasional tahun ini dapat mencapai sekitar 821.000 hingga 825.000 unit, meningkat dibandingkan realisasi tahun lalu yang berada di kisaran 803.000 unit. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang