Mobil Tesla. Pasar mobil listrik bekas (EV) di 2026 menunjukkan dinamika yang signifikan. Setelah berakhirnya insentif kredit pajak federal di Amerika Serikat pada September 2025, harga jual kembali mobil listrik bekas mengalami tren berbeda, tergantung merek dan model. Fenomena ini menekankan bagaimana permintaan pasar EV bekas dipengaruhi oleh faktor ekonomi, reputasi merek, dan ketersediaan insentif pembelian. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Servis Mobil Tesla. Foto: Autoevolution. Dikutip VIVA Senin, 23 Februari 2026, Data terbaru menunjukkan bahwa mobil Tesla bekas mengalami kenaikan nilai rata-rata sekitar 4,3 persen sejak insentif pajak berakhir. Kenaikan ini terutama terlihat pada model premium seperti Model S dan Model X, yang menonjol dalam hal permintaan dan nilai jual kembali.Tren ini membuat Tesla tetap menjadi pemenang di pasar mobil listrik bekas, bahkan saat sebagian besar model EV lain menghadapi depresiasi.Secara keseluruhan, harga rata-rata EV bekas naik sekitar 3,5%, terutama karena kekuatan merek Tesla dan tingginya kepercayaan konsumen terhadap kualitas dan jaringan layanan purna jual Tesla.Model EV Lain Justru Mengalami PenurunanSebaliknya, hampir semua mobil listrik bekas dari merek selain Tesla menunjukkan penurunan harga rata-rata sekitar 3,6%. Beberapa contoh penurunan signifikan meliputi: Hyundai Kona Electric: turun 6,4% Volkswagen ID.4: turun 6,2% Kia Niro EV: turun 5,2% Ford Mustang Mach‑E: turun 5,1% Nissan Leaf: turun 4,6% Polestar 2: turun 1,9%Penurunan nilai ini mencerminkan konsumen yang semakin selektif, lebih mengutamakan efisiensi, jarak tempuh baterai, dan akses ke stasiun pengisian daya. Model dengan reputasi jaringan layanan kurang kuat cenderung menghadapi depresiasi lebih cepat.Faktor Penyebab Perubahan Nilai BekasSalah satu penyebab utama perbedaan tren ini adalah berakhirnya insentif pembelian EV baru, yang sebelumnya mendorong permintaan mobil listrik baru dan menstabilkan nilai pasar bekas. Dengan insentif tersebut hilang, harga mobil baru menurun, dan pengaruhnya terasa pada pasar bekas.Selain itu, konsumen kini menilai biaya perawatan, usia baterai, dan jarak tempuh sebagai faktor penting sebelum membeli EV bekas. Hal ini membuat beberapa model non‑Tesla kehilangan nilai lebih cepat dibanding Tesla, yang reputasinya lebih kuat dan jaringan layanannya lebih luas.Meski data Carscoops fokus pada pasar AS, tren serupa terlihat di Indonesia. Mobil listrik bekas di Indonesia cenderung mengalami depresiasi lebih cepat dibanding mobil bensin, dengan penurunan 35–60% dalam satu tahun.Sementara mobil bensin biasanya turun 10–15% per tahun. Faktor seperti biaya perawatan baterai dan infrastruktur pengisian daya memengaruhi nilai jual kembali EV bekas di pasar lokal.Pasar mobil listrik bekas semakin matang dan kompleks. Tesla tetap menjadi pemimpin pasar, sementara model lain menghadapi depresiasi lebih cepat. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Mobil Tesla.Konsumen dan pemilik EV perlu memahami tren ini untuk memaksimalkan nilai jual kembali, membuat keputusan pembelian lebih cerdas, dan menyesuaikan strategi jangka panjang terkait kendaraan listrik.