Logo mobil listrik Tesla Elon Musk kembali menutup tahun dengan pernyataan penuh percaya diri soal Tesla, namun kali ini klaim tersebut dinilai semakin jauh dari realitas pasar otomotif global. Narasi yang dibangun terdengar optimistis, tetapi mulai retak ketika dihadapkan pada data penjualan lintas negara. Pada 2023, status mobil terlaris dunia memang pantas disematkan pada Model Y. Namun situasi berubah ketika memasuki 2024 dan 2025, di mana persaingan justru semakin ketat dan dominasi Tesla tidak lagi mutlak. Sepanjang 2025, tren penjualan global menunjukkan pergeseran signifikan. Model Y diperkirakan tak lagi memimpin, bahkan cenderung turun ke posisi ketiga di bawah dua model andalan Toyota.Toyota RAV4 diproyeksikan kembali merebut posisi puncak dengan volume sekitar 1,2 juta unit per tahun. Corolla juga masih bertahan kuat dengan estimasi penjualan lebih dari satu juta unit, meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, penjualan global Model Y justru diperkirakan menyusut dua digit secara tahunan. Penurunan ini mengindikasikan bahwa daya tarik Tesla mulai tergerus di tengah gempuran model hybrid dan konvensional yang lebih terjangkau. Masalah lain yang kerap disorot adalah minimnya transparansi Tesla dalam merilis data penjualan. Perusahaan hanya melaporkan angka gabungan Model 3 dan Model Y, sehingga sulit memverifikasi klaim individual tiap model. Kondisi ini membuka ruang bagi Musk untuk melontarkan klaim besar di media sosial tanpa bisa segera diuji kebenarannya. Analis global membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyusun data registrasi dari puluhan negara demi mendapatkan gambaran utuh.Di sisi lain, peta persaingan mobil listrik dunia juga berubah drastis. BYD resmi melampaui Tesla sebagai produsen kendaraan listrik murni terbesar secara global sepanjang 2025.Produsen asal China itu mencatat pertumbuhan signifikan, sementara Tesla justru mengalami penurunan pengiriman tahunan. Selisih ratusan ribu unit menjadi sinyal kuat bahwa arah pertumbuhan kedua perusahaan kini berlawanan.Kinerja BYD juga ditopang ekspansi internasional yang agresif, sementara Tesla masih bergulat dengan lini produk yang relatif stagnan. Tanpa platform baru yang lebih murah, Tesla tampaknya sulit mempertahankan narasi dominasi seperti yang terus digaungkan Elon Musk.