Perkembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mulai mengubah peta industri otomotif, termasuk bisnis komponen dan suku cadang. Mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) memiliki sistem penggerak yang lebih sederhana dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Dengan meningkatkan populasi mobil listrik, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri komponen yang selama ini banyak memasok kebutuhan kendaraan ICE. Chairman of Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Yusak Kristian Solaeman, meningkatnya pemakaian mobil listrik tidak serta merta mematikan industri komponen yang ada. "Jumlah komponen dalam sebuah unit BEV akan jauh lebih kecil daripada jumlah komponen dalam sebuah unit ICE (Internal Combustion Engine)," katanya di Jakarta, Jumat (18/9/2026). Bisnis suku cadang di INAPA "Tetapi tentu kita juga tahu bahwa penetrasi EV akan punya keterbatasan juga, akan ada limitnya, bahwa tidak mungkin dalam waktu singkat akan menggantikan total ICE, itu yang pertama," ujarnya. Kemudian, kata Yusak, penetrasi mobil listrik saat ini masih tertahan oleh infrastruktur. Sehingga populasi mobil listrik alias BEV masih berkutat di kota besar. Yusak yang saat ini juga menjabat Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk, mengatakan, kendaraan listrik bukan hanya BEV melainkan ada hybrid dan PHEV yang secara garis besar masih similar dengan mobil bahan bakar minyak. "Apalagi kalau kita bergerak ke kota yang lebih kecil, tentu infrastruktur dan lain-lainnya juga tidak secepat apa yang kita lihat di kota besar seperti Jakarta," ujarnya. Automechanika Jakarta 2026 Kendaraan Beroperasi Peluang industri komponen tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak mobil baru yang menggunakan teknologi tertentu. Jumlah kendaraan yang sudah beroperasi juga menjadi bagian penting dari pasar. Selain itu, kendaraan hybrid dan plug-in hybrid tetap menggunakan mesin pembakaran sehingga sebagian komponen yang selama ini diproduksi pemasok kendaraan konvensional masih dibutuhkan. "Yang kedua adalah, beberapa parts, komponen, tetap akan tetap akan digunakan baik itu di ICE dan EV," katanya Yusak. "Apalagi kalau intinya tidak ke EV langsung, misalnya ada yang hybrid atau plug-in hybrid EV, itu komponennya masih banyak sekali yang sama dengan ICE. Jadi di EV kita tahu kalau penetrasinya juga akan punya waktu dan tidak mungkin secepat itu," katanya. Secara global, sekitar 20 persen pasar pemasok komponen otomotif berkaitan secara spesifik dengan komponen ICE. Adapun lebih dari dua pertiga pasar komponen berhubungan dengan komponen non-powertrain yang masih digunakan pada berbagai jenis kendaraan. Harga sejumlah komponen suku cadang kendaraan mengalami kenaikan di salah satu bengkel di Jalan Palmerah Barat, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (20/5/2026) Aftermarket Yusak mengatakan peluang juga datang dari pasar penggantian komponen atau suku cadang. Sebab kendaraan perlu perawatan dan penggantian komponen selama masa pakai. Jumlah kendaraan yang telah beredar pun lebih besar dibandingkan jumlah mobil baru yang diproduksi dalam satu tahun. "Dan selain itu, komponen juga digunakan kembali yang tadi saya bicara di awal, unit in operation, di replacement market," katanya. "Itu jauh lebih banyak daripada jumlah mobil baru yang diproduksi, dan itu yang membuat komponen tetap akan punya peluang untuk memperpanjang hidupnya, itu jauh lebih panjang," ujar Yusak. Pasar tersebut membuat industri komponen memiliki waktu untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi kendaraan. Presiden Direktur Honda Surabaya Center Ang Hoey Tiong saat membuka booth Honda yang menjadi salah satu peserta pameran otomotif terbesar di kota kedua GIIAS Surabaya 2026 berlangsung di Grand City Surabaya, Jawa Timur mulai 26-30 Agustus 2026. "Karena di replacement market itu unit in operation akan tertahan mungkin sampai dua dekade lagi ke depan," katanya. Mobil Baru Yusak menilai peluang industri komponen di Indonesia masih cukup besar. Salah satu penopangnya adalah jumlah kendaraan roda empat yang masih berpotensi bertambah. "Selain itu populasi roda empat di Indonesia itu masih sangat potensial tumbuh, masih dari 1 jutaan sekarang itu potensi kedua juta masih sangat besar," katanya. "Artinya kalau itu meningkat dua kali lipat dari hari ini, walaupun di EV-nya melakukan penetrasi cukup agresif, tetap secara ukuran kita masih bertumbuh. Jadi komponen yang dibutuhkan untuk ICE juga masih akan cukup tinggi," katanya. Pertumbuhan populasi kendaraan dapat menjaga kebutuhan komponen meski penetrasi mobil listrik terus meningkat. Suasana booth Toyota di GIIAS 2026 Sebab pertumbuhan populasi kendaraan juga berarti semakin banyak unit yang membutuhkan komponen, baik untuk kendaraan baru maupun kendaraan yang sudah beroperasi. "Sehingga kami di komponen punya optimisme bahwa ya sebetulnya kita harus mencari berbagai cara untuk meningkatkan nilai kompetitif tadi," ujarnya. "Jadi selama kita memiliki daya saing global yang cukup tinggi, harusnya kita akan punya nafas yang sangat panjang," kata Yusak. Kompetensi Bisa Dialihkan Selain pertumbuhan jumlah kendaraan, Yusak melihat peluang lain dari kemampuan industri komponen yang sudah dimiliki saat ini. Suku cadang Toyota, T-OPT. "Selain itu mungkin satu hal lagi adalah kompetensi yang dimiliki oleh kami, komponen-komponen makers," katanya. Menurut Yusak, kompetensi yang selama ini digunakan untuk memproduksi komponen kendaraan konvensional sebenarnya dapat dialihkan untuk membuat komponen dengan kebutuhan teknologi baru. "Tapi memiliki kompetensi atau kapabilitas yang sebetulnya sangat bisa di-convert (diubah) ke item yang berbeda. Misalnya kita banyak bicara kompetensi forging, forgingnya sekarang kebanyakan steel," katanya. "Kalau rencana masa depan yang akan aluminium tetap dengan kompetensi forging tapi materialnya berjadi aluminium," ujar Yusak. "Jadi akan banyak kompetensi-kompetensi di komponen maker hari ini yang sangat bisa di-convert dan sangat adaptif dengan teknologi dua baru," katanya.