Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mendorong industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia. Langkah ini dilakukan seiring perkembangan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang membutuhkan semakin banyak komponen lokal. IKM tidak hanya diarahkan menjadi penerima manfaat dari pertumbuhan pasar kendaraan listrik, tetapi juga menjadi bagian dari rantai pasok industri tersebut. Pabrik motor listrik Alva berada di Kawasan Delta Mas, Cikarang. Kemenperin terus meningkatkan kemampuan IKM agar dapat berpartisipasi secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi dan tingkat kompleksitas komponen yang mampu diproduksi. Pada tahap awal, IKM dapat diarahkan memproduksi komponen yang teknologinya relatif sudah dikuasai. Di antaranya komponen berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, hingga wiring harness. Sementara itu, IKM yang memiliki kemampuan engineering dan manufaktur lebih tinggi akan didorong masuk ke komponen dengan nilai tambah lebih besar. Ilustrasi hasil produksi komponen otomotif di Indonesia. Komponen tersebut antara lain battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, hingga komponen pendukung battery pack dan power electronics. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, penguatan kemitraan antara IKM dengan industri besar, agen pemegang merek (APM), dan Tier-1 menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat proses tersebut. Berkunjung langsung ke pabrik Chery di Wuhu, China. IKM Harus Penuhi Standar Kemenperin juga menjalankan program business matching untuk mempertemukan IKM dengan industri besar. Namun, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pertemuan antara calon pemasok dan produsen kendaraan. Program dilengkapi dengan forum penyampaian spesifikasi komponen, supplier assessment, pengembangan prototipe, pengujian, hingga proses kualifikasi pemasok. Reni mengatakan, tujuan akhir dari agenda ini adalah menciptakan komitmen pembelian dari industri. Gotion sebut porsi harga baterai mobil listrik kini turun menjadi 40-50 persen. “Orientasi akhirnya adalah terciptanya komitmen pembelian. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah IKM yang mengikuti business matching, tetapi berapa banyak yang berhasil menjadi qualified supplier dan mendapatkan pesanan industri secara berkelanjutan,” ujar Reni, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (21/8/2026). Dengan skema tersebut, IKM diharapkan tidak hanya mendapatkan akses untuk bertemu dengan produsen kendaraan listrik, tetapi benar-benar mampu memenuhi standar dan spesifikasi yang dibutuhkan industri. Suasana Pameran GIIAS 2026 Gandeng APM Motor dan Mobil Listrik Kemenperin juga mulai menghubungkan IKM dengan pelaku industri kendaraan listrik melalui sejumlah program yang dijalankan pada 2026. Direktorat IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut (LMEA) Ditjen IKMA telah melakukan pemetaan kebutuhan komponen dari APM sekaligus memetakan kemampuan IKM dalam memproduksi komponen kendaraan listrik. Selain itu, program mencakup business matching, pelatihan perakitan, serta servis kendaraan listrik roda dua dan kendaraan listrik multiguna roda tiga. Fasilitas perakitan mobil Aletra di PT Handal Indonesia Motor (HIM), Purwakarta, Jawa Barat Sejauh ini, program tersebut telah melibatkan satu APM motor listrik nasional roda dua dan dua APM mobil listrik. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat integrasi IKM komponen otomotif ke dalam ekosistem KBLBB. Kemenperin menargetkan IKM tidak berhenti sebagai pemasok komponen sederhana. Seiring peningkatan kemampuan teknologi dan manufaktur, pelaku usaha diharapkan dapat naik kelas ke komponen yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. “IKM harus menjadi bagian dari rantai pasok, menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, dan pada waktunya mampu bersaing di pasar global,” kata Reni.