Industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak hanya menghadirkan peluang bagi produsen mobil, tetapi juga membuka ruang bagi industri komponen lokal. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki mengatakan, komponen yang paling potensial untuk dilokalkan dalam satu hingga dua tahun ke depan justru berasal dari komponen yang selama ini sudah memiliki basis industri di Indonesia. "Komponen yang potensial sebenarnya komponen yang sudah ada. Seperti body, seat, tire, wheel rim, safety glass, dan lain-lain," ujar Rachmat, kepada Kompas.com, dikutip Senin (7/9/2026). Berbagai komponen mobil yang dibuat dari industri binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra Menurut dia, kondisi tersebut menjadi peluang bagi industri komponen nasional karena kendaraan listrik pada dasarnya tetap membutuhkan sejumlah komponen pendukung yang tidak banyak berubah dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal. Artinya, transisi dari mobil konvensional menuju mobil listrik tidak serta-merta menghilangkan pasar bagi produsen komponen yang selama ini telah memasok kebutuhan industri otomotif. Namun, tantangan terbesar berada pada komponen inti yang menjadi pembeda utama kendaraan listrik. "Sedangkan yang sulit (diproduksi lokal) power train dari EV itu sendiri seperti baterai, motor listrik dan Power Control Unit (PCU)," kata Rachmat. Pabrik BYD di Subang ditargetkan menyerap hingga 20.000 tenaga kerja lokal saat mencapai kapasitas produksi penuh. Komponen Lama Jadi Modal Industri Lokal Peluang bagi industri komponen lokal menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya investasi kendaraan listrik di Indonesia. Pemerintah menetapkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik secara bertahap, dengan target minimal 60 persen pada periode 2027-2029 dan 80 persen mulai 2030. “Saat ini tercatat 14 perusahaan, dengan total investasi Rp 24,131 triliun dan kapasitas produksi 409.860 unit per tahun,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di dalam keterangan resmi (3/9/2026). Ilustrasi suku cadang dan komponen mobil Kementerian Perindustrian juga mendorong industri kecil dan menengah (IKM) masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik. Upaya ini dilakukan agar pertumbuhan industri EV tidak hanya menghasilkan aktivitas perakitan kendaraan, tetapi juga meningkatkan penyerapan komponen yang dibuat perusahaan nasional. Di tengah upaya tersebut, industri otomotif Indonesia juga menghadapi semakin banyaknya pemasok asing, khususnya dari China. Kehadiran mereka tidak selalu dalam bentuk produk impor, tetapi juga melalui pembangunan fasilitas produksi di Indonesia. Tes ban Sailun Salah satu contohnya adalah Sailun. Produsen ban asal China tersebut telah membangun fasilitas manufaktur di Demak, Jawa Tengah, dengan investasi 251,44 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,9 triliun. Pabrik yang mulai beroperasi pada Mei 2025 itu memproduksi ban mobil penumpang, ban truk dan bus, serta ban untuk kebutuhan off-road. Kehadiran investasi seperti Sailun pada satu sisi dapat memperkuat struktur industri nasional. Namun, di sisi lain, perusahaan lokal yang telah lebih dulu membangun bisnis komponen harus menghadapi pemain dengan skala produksi, teknologi, jaringan pasok, dan kemampuan modal yang besar. Ilustrasi wiper mobil merek Bosch Jangan Sampai Industri Lokal Hanya Jadi Penonton Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai masuknya pemasok komponen China tidak selalu menjadi ancaman bagi industri nasional. Menurutnya, kehadiran perusahaan asing justru dapat menjadi peluang untuk mengisi kesenjangan teknologi yang masih dimiliki Indonesia. "Masuknya pemasok komponen dari China sendiri menurut saya bisa menjadi perkembangan positif bagi industri nasional, karena Indonesia masih membutuhkan kemampuan pada beberapa komponen inti bernilai tinggi seperti elektronika daya, motor traksi, baterai, dan sistem kontrolnya," ujar Martin, kepada Kompas.com (6/9/2026). macam aki mobil Namun, menurut dia, keberhasilan investasi tersebut tidak cukup hanya diukur dari jumlah pabrik asing yang berdiri atau tingginya angka TKDN secara administratif. Hal yang lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut menciptakan hubungan dengan pemasok lokal, meningkatkan kemampuan IKM, serta membangun kompetensi dan kapasitas tenaga engineering Indonesia. Martin menilai transfer teknologi juga menjadi aspek penting. Dengan demikian, kehadiran perusahaan China maupun investor asing lainnya tidak berhenti pada pemindahan aktivitas produksi ke Indonesia. Fasilitas perakitan mobil Aletra di PT Handal Indonesia Motor (HIM), Purwakarta, Jawa Barat "Kalau rantai pemasok asing hanya berpindah lokasi ke dalam negeri, tetapi tetap bekerja sebagai ekosistem yang tertutup, jelas selain hanya menambah serapan volume tenaga kerja, nilai tambah bagi cita-cita membangun kemandirian industri domestik tentu menjadi lebih terbatas," kata dia. Karena itu, Indonesia tetap membutuhkan investasi asing untuk menutup kesenjangan teknologi, tetapi pada saat yang sama perusahaan lokal harus diberikan ruang untuk naik kelas. Dalam jangka panjang, ukuran keberhasilan industri kendaraan listrik nasional bukan sekadar berapa banyak kendaraan yang dirakit di Indonesia. Lebih jauh, harus terlihat semakin banyak komponen bernilai tinggi yang ditopang kemampuan engineering, software, baterai, serta pengetahuan produksi yang tumbuh di dalam negeri.