Pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya membutuhkan penambahan infrastruktur. Etika pengguna saat mengisi daya juga menjadi bagian penting agar fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dapat dimanfaatkan secara tertib. Salah satu persoalan yang masih ditemui adalah antrean pengisian daya. Pengguna perlu memahami prosedur yang berlaku, menghormati pengguna lain, serta tidak memaksakan diri ketika fasilitas belum dapat digunakan. PLN Perluas Infrastruktur SPKLU Gregorius Adi Trianto, Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PT PLN (Persero), mengatakan, PLN terus memperluas infrastruktur kendaraan listrik guna mendukung pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. "Hingga saat ini, PLN bersama mitra telah mengoperasikan 5.081 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 3.180 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia," ujar Gregorius, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. SPKLU Signature di Summarecon Mall Bekasi (SMB) hadir dengan spesifikasi industrial. Penambahan fasilitas tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung kebutuhan pengguna kendaraan listrik. Namun, ketersediaan SPKLU juga perlu diikuti dengan pemahaman mengenai tata cara penggunaan dan aturan antrean. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, mengatakan, teknologi pengisian baterai atau charging station di Indonesia relatif masih baru. Masih banyak yang gagap teknologi (gaptek) dan membingungkan. "Terutama metode antre dalam pengisian, ada yang nge-tag tempat, bayar via aplikasi, antre fisik, sampai dengan enggak bisa ngisi. Entah sinyal, cuma numpang parkir, tapi tetap ngotot enggak mau gantian. Faktor-faktor itu mudah sekali bikin emosi," ujar Sony, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Antrean SPKLU Perlu Diikuti Toleransi Menurut Sony, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas pengisian daya. Cara pengguna memahami dan menjalankan aturan antrean juga turut menentukan apakah proses pengisian berjalan tertib. Astra Infra mempersiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh rest area sepanjang ruas Cipali dan Tangerang-Merak sebagai langkah mitigasi kemacetan di titik-titik lelah. Ia pun mengaku pernah mengalami persoalan serupa. Namun, Sony memilih tidak memperpanjang masalah ketika menghadapi situasi yang berpotensi memicu konflik. "Saya pernah mengalami kasus seperti itu, tapi saya lebih memilih geser cari tempat lain daripada berkonflik. Sebab, rebutan dan berkonflik justru bikin waktu saya terbuang percuma," kata Sony. Sony menilai, pengguna kendaraan listrik perlu memahami bahwa fasilitas pengisian daya merupakan ruang yang digunakan bersama. Karena itu, toleransi menjadi salah satu hal penting, terutama ketika antrean sedang panjang. "Buat para pengguna EV, pahami pentingnya toleransi. Kalau antrean panjang, lebih baik berbagi waktu dengan yang lain dengan cara charge sesuai kebutuhan, enggak perlu sampai full," ujarnya. SPKLU Zora berpendingin cairan pertama di Indonesia hadir di Serpong, tawarkan pengisian ultra cepat hingga 400 kW dengan teknologi split charging. Etika Mengantre Jadi Perhatian Selain toleransi, kejujuran dalam mengantre juga menjadi bagian penting dari etika penggunaan SPKLU. Pengguna sebaiknya tidak mengambil tempat secara sepihak atau memaksakan diri ketika fasilitas pengisian daya belum dapat digunakan. "Etika saat antre nge-charge harus jujur, jangan nge-tag sesama teman, biasanya sopir-sopir taksi nih. Kalau enggak bisa isi karena sinyal atau yang lain, enggak usah maksa. Kasih kesempatan EV lain untuk ngisi baterai," katanya. Persoalan antrean tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kendaraan listrik tidak hanya membutuhkan penambahan infrastruktur. Pemahaman pengguna terhadap prosedur pengisian daya dan kesadaran untuk berbagi fasilitas juga menjadi bagian penting agar penggunaan SPKLU berjalan lebih tertib. Dengan demikian, peningkatan jumlah SPKLU perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan menggunakan fasilitas secara bertanggung jawab. Sikap saling menghormati di antara pengguna diharapkan dapat membantu mengurangi potensi konflik, terutama ketika kebutuhan pengisian daya meningkat.