Hyundai Ioniq 5 N Menurut dia, pendekatan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong peralihan masyarakat ke kendaraan listrik secara masif. Sebab, keputusan konsumen dalam membeli kendaraan tidak hanya ditentukan oleh harga awal, tetapi juga biaya penggunaan dalam jangka panjang. GULIR UNTUK LANJUT BACA Frans mengatakan, insentif seharusnya dirancang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan pengalaman pengguna selama masa kepemilikan. Ia mencontohkan, kendaraan listrik yang memiliki emisi lebih rendah semestinya mendapatkan keuntungan tambahan dalam penggunaan sehari-hari.“Kalau kendaraan itu memang lebih ramah lingkungan, seharusnya ada benefit yang dirasakan saat digunakan. Misalnya saat menggunakan tol atau parkir, bisa mendapatkan kelebihan,” kata Frans di Jakarta belum lama ini. Pernyataan tersebut mengindikasikan perlunya perubahan pendekatan dalam kebijakan kendaraan listrik. Selama ini, insentif yang diberikan pemerintah cenderung berupa potongan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau pembebasan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), yang hanya berdampak pada harga beli.Padahal, dalam konteks yang lebih luas, faktor biaya operasional dan kemudahan penggunaan justru menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Insentif berbasis penggunaan dinilai dapat memberikan nilai tambah yang lebih nyata, sekaligus memperkuat daya saing kendaraan listrik dibandingkan mobil bermesin konvensional.Selain itu, Frans juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap ekosistem, termasuk peran jaringan dealer. Ia menyebut, edukasi kepada konsumen menjadi salah satu kunci dalam mempercepat adopsi teknologi baru.Menurut dia, dealer tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam memberikan pemahaman mengenai karakteristik dan keunggulan kendaraan listrik. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan yang turut mempertimbangkan peran tersebut.“Dealer melakukan edukasi kepada konsumen, menjelaskan teknologi dan manfaat kendaraan listrik. Itu membutuhkan upaya tambahan, sehingga perlu ada dukungan juga,” ujarnya.Di sisi lain, Hyundai melihat bahwa preferensi konsumen di Indonesia masih beragam. Tidak semua pengguna siap beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai. Sebagian masih mempertahankan kendaraan bermesin pembakaran internal, sementara sebagian lain mulai melirik teknologi hybrid sebagai alternatif.Kondisi tersebut membuat Hyundai memilih strategi menghadirkan lini produk dengan berbagai pilihan sumber tenaga, mulai dari mesin konvensional, hybrid, hingga kendaraan listrik murni. Pendekatan ini dinilai lebih adaptif terhadap dinamika pasar yang masih dalam tahap transisi. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Dalam situasi tersebut, keberadaan insentif yang tepat sasaran menjadi faktor penting. Frans menilai, jika kebijakan hanya berfokus pada pembelian, maka daya dorongnya akan terbatas. Sebaliknya, jika insentif juga menyasar penggunaan, maka manfaat kendaraan listrik akan terasa lebih luas.Dengan demikian, peluang percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia akan semakin terbuka. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada arah kebijakan yang diambil pemerintah dalam waktu ke depan, khususnya dalam merancang skema insentif yang tidak hanya menarik di awal, tetapi juga berkelanjutan.