Merek China dinilai memiliki sejumlah keunggulan yang membuat mereka mampu menekan harga jual kendaraan. Salah satunya adalah efisiensi rantai pasok global serta skala produksi yang besar. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, keunggulan tersebut menjadi salah satu tantangan bagi produk lokal untuk dapat bersaing di pasar otomotif Indonesia. Menurut dia, merek-merek asal China umumnya telah memiliki jaringan produksi dan rantai pasok yang luas. Dukung Dash Electric Akselerasi Infrastruktur Logistik Berbasis EV Melalui Penyediaan Hingga 500 Unit Motor Listrik ALVA N3 Kondisi tersebut memungkinkan produsen memperoleh keuntungan dari economies of scale atau efisiensi biaya karena memproduksi kendaraan dalam jumlah besar. "Peluang produk lokal, pengembangan desain dan manufaktur oleh insinyur dalam negeri membuka ruang bagi penyesuaian spesifikasi yang lebih tepat sasaran dengan kondisi geografis dan daya beli masyarakat Indonesia," ujar Djoko, dalam keterangan resminya. Djoko menilai, pengembangan produk oleh tenaga ahli dalam negeri dapat menjadi salah satu keunggulan yang dimanfaatkan untuk menghadapi persaingan tersebut. Produk yang dirancang berdasarkan kebutuhan pasar Indonesia berpeluang memiliki spesifikasi yang lebih sesuai dengan karakteristik konsumen. Selain mempertimbangkan kondisi geografis, aspek daya beli masyarakat juga dapat menjadi dasar dalam menentukan spesifikasi dan harga kendaraan. Exotic Sprinter AT jadi motor listrik termurah di GIIAS 2026 yang dijual mulai Rp 9 jutaan. Peluang dari insentif kendaraan nasional Selain pengembangan desain dan manufaktur, kebijakan pemerintah juga dinilai dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk nasional. Djoko mengatakan, insentif khusus untuk kendaraan nasional dapat memberikan ruang bagi produsen dalam negeri untuk membangun struktur biaya yang lebih kompetitif. Motor listrik Sunra "Keunggulan biaya operasional, jika skema insentif khusus kendaraan nasional direalisasikan secara optimal, produk nasional dapat memiliki struktur harga yang mampu bersaing langsung di segmen pasar menengah-bawah," kata Djoko. Menurut dia, skema tersebut dapat menjadi salah satu peluang untuk memperkuat posisi produk nasional, khususnya pada segmen kendaraan dengan harga yang lebih terjangkau. Persaingan harga menjadi semakin penting karena konsumen Indonesia tidak hanya mempertimbangkan desain dan fitur ketika memilih kendaraan. Harga pembelian serta biaya operasional juga menjadi pertimbangan utama. Jika produk nasional mampu memanfaatkan pengembangan teknologi, desain, serta manufaktur dalam negeri secara optimal, peluang untuk menghasilkan kendaraan yang sesuai kebutuhan pasar sekaligus kompetitif dari sisi harga pun semakin terbuka. Tantangannya, produsen dalam negeri perlu membangun ekosistem produksi yang efisien agar keunggulan tersebut tidak hanya berasal dari tingkat kandungan lokal, tetapi juga tecermin pada harga dan biaya kepemilikan kendaraan. Dengan demikian, penguatan industri otomotif nasional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memproduksi kendaraan di dalam negeri. Faktor efisiensi, skala produksi, pengembangan teknologi, serta kesesuaian produk dengan kebutuhan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi persaingan dengan merek global, termasuk dari China.