Honda Motor Co. kembali mengubah strategi dalam mengembangkan produk. Pabrikan asal Jepang ini memutuskan untuk mengembalikan divisi riset dan pengembangan (R&D) menjadi lebih mandiri, setelah sebelumnya sempat dipusatkan. Langkah ini sekaligus membalik kebijakan yang diambil pada 2020. Saat itu, Honda menyatukan seluruh proses pengembangan agar lebih efisien dan cepat. Padahal, model R&D terpisah bukan hal baru bagi Honda. Sejak 1960, perusahaan sudah memberi kebebasan kepada para insinyurnya untuk bereksperimen tanpa banyak campur tangan. Cara ini terbukti berhasil. Salah satunya lewat lahirnya mesin CVCC yang lebih ramah emisi pada 1970-an, serta kesuksesan Honda Civic di pasar Amerika Serikat. Kini, Honda kembali ke pendekatan tersebut dengan harapan bisa mempercepat inovasi di tengah persaingan yang semakin ketat. Tekanan terbesar datang dari produsen otomotif China seperti BYD dan Geely. Kedua merek ini dinilai mampu mengembangkan mobil baru jauh lebih cepat. Honda 0 SUV India Jika pabrikan Jepang butuh waktu bertahun-tahun, maka produsen China bisa meluncurkan model baru hanya dalam waktu sekitar 18 bulan. CEO Honda, Toshihiro Mibe, bahkan mengakui tantangan tersebut. “Kami tidak punya peluang melawan ini,” ujarnya dikutip dari Carscoops, Senin (6/4/2026). Kondisi ini juga terlihat dari penjualan Honda di China yang terus menurun. Pada 2025, penjualannya bahkan turun hingga 24 persen. Selain itu, beberapa pabrik juga belum beroperasi secara maksimal, dan rencana peluncuran model baru mulai dikurangi. Sementara itu, para pesaing terus berkembang. Mereka tidak hanya lebih cepat, tapi juga lebih efisien dan unggul dalam teknologi, termasuk software dan sistem produksi. Berbeda dengan Honda, beberapa pabrikan Jepang lain memilih bekerja sama dengan perusahaan lokal di China. Toyota Motor Corporation dan Nissan Motor Corporation, misalnya, menggandeng mitra lokal untuk mempercepat pengembangan mobil listrik yang lebih terjangkau. Honda justru memilih memperbaiki diri dari dalam. Selain itu, perusahaan juga mulai melirik India sebagai basis produksi untuk mobil listrik generasi berikutnya. Dengan biaya produksi yang lebih rendah dan industri yang terus berkembang, India diharapkan bisa membantu Honda mengejar ketertinggalan. Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama untuk menyamai kecepatan produsen otomotif China. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang