Industri komponen otomotif di Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang. Peluang tersebut tidak hanya datang dari produksi kendaraan baru, tetapi juga dari jumlah kendaraan yang sudah beredar di jalan. Kondisi ini membuat sektor aftermarket atau pasar purnajual menjadi salah satu lahan yang masih bisa digarap industri komponen. Dewan Pengawas Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM) Irianto Santoso mengatakan, besarnya populasi kendaraan menjadi modal penting bagi industri komponen. Menurut dia, populasi sepeda motor di Indonesia saat ini mencapai sekitar 120 juta unit untuk kendaraan yang terdaftar. Sementara itu, masih ada kendaraan yang tidak terdaftar. Ilustrasi bengkel motor yang menyediakan berbagai jenis ban motor "Tadi enggak disebut saja. Kalau kita bicara roda dua, total populasi motor di Indonesia saat ini ada 120 juta (unit). Itu yang register, yang terdaftar," katanya kepada Kompas.com, di Jakarta akhir pekan lalu. "Yang unregister atau yang tidak terdaftar, mungkin sekitar 30 juta. Jadi, totalnya masih 150 juta. Itu yang menjadi bisnis di aftermarket," katanya. Dengan jumlah tersebut, industri komponen memiliki pasar yang sangat besar dari kendaraan yang sudah digunakan masyarakat. Artinya, pertumbuhan industri komponen tidak semata-mata harus menunggu penjualan kendaraan baru meningkat. Selama kendaraan masih digunakan, kebutuhan terhadap komponen, suku cadang, perawatan, hingga penggantian komponen tetap akan muncul. Salah satu motor yang sedang di servis di bengkel Motul Metro Motor di Jalan Menur, Surabaya jelang libur lebaran 2025, Rabu (26/3/2025). Populasi Mobil Peluang serupa juga terdapat pada kendaraan roda empat. Irianto menyebut populasi mobil di Indonesia saat ini berada di kisaran 30 juta unit. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah produksi kendaraan baru setiap tahunnya. Dengan demikian, kendaraan yang sudah berada di tangan konsumen menjadi pasar potensial bagi industri komponen. "Mobil kira-kira totalnya 30 jutaan populasinya. Padahal, produksinya cuma 800.000 sampai 1 juta (unit), maksimum yang pernah kita capai. Tapi totalnya kita masih ada 30 juta," katanya. "Jadi, kita bermain di existing, yang sudah ada," kata Irianto yang juga menjabat Presiden Direktur Dharma Polimetal (DRMA). Menurut Irianto, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar aftermarket memiliki peran penting dalam menopang industri komponen nasional. ASDP memastikan arus kendaraan di Pelabuhan Bakauheni tetap lancar meski aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat. Kendaraan yang sudah berusia beberapa tahun tetap membutuhkan perawatan. Semakin banyak kendaraan yang beredar dan semakin panjang usia pakainya, kebutuhan terhadap komponen pengganti juga ikut terbentuk. Dengan kata lain, industri komponen memiliki dua sumber pasar, yakni kendaraan baru yang diproduksi setiap tahun dan kendaraan yang sudah beredar di masyarakat. Kepemilikan Mobil Masih Kecil Selain besarnya populasi kendaraan, peluang industri otomotif Indonesia juga terlihat dari tingkat kepadatan mobil yang dinilai masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara. Irianto mengatakan, saat ini kepadatan mobil di Indonesia berada di kisaran 100 unit per 1.000 penduduk. "Kemudian bahwa kepadatan atau density mobil di Indonesia itu baru 100 mobil per 1.000 penduduk. Ya, kurang lebih lah. Saya bulatkan jadi 100," katanya. Suasana booth Toyota di GIIAS 2026 Angka tersebut masih berada di bawah Thailand dan Malaysia. Irianto menyebut kepadatan mobil di Thailand mencapai sekitar 280 unit per 1.000 penduduk, sedangkan Malaysia sekitar 500 unit per 1.000 penduduk. "Sedangkan Thailand itu 280 unit (per 1.000). Malaysia tadi 500 mobil (per 1.000 penduduk)," katanya. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan kendaraan di Indonesia masih terbuka. Jika kepadatan mobil meningkat, jumlah kendaraan yang membutuhkan perawatan dan komponen juga berpotensi bertambah. "Lah, Indonesia dari 100, kalau jadi 150 saja, itu 1,5 kali. Dari 100 jadi 200 (unit per 1.000 penduduk) saja, itu artinya dua kali. 200 itu masih lebih rendah daripada Thailand," katanya.