Sejumlah produsen komponen otomotif mulai memperluas bisnis ke sektor kendaraan listrik, seiring meningkatnya adopsi EV sebagai sarana transportasi. Perkembangan ini mendorong pelaku industri untuk menyesuaikan portofolio produk dengan arah pasar yang kian mengarah ke elektrifikasi. Salah satu langkah tersebut dilakukan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dengan memperkenalkan baterai lithium 12 volt dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026. Diskusi baterai lithium Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan, pengembangan komponen pendukung kendaraan listrik merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam merespons perubahan industri otomotif. “Industri otomotif sedang bergerak ke arah elektrifikasi. Kami mencoba menyesuaikan diri dengan kebutuhan tersebut,” ujar Irianto di Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Baterai lithium 12V yang diperkenalkan ditujukan untuk sepeda motor listrik, tersedia dalam dua varian, yakni 12V 6Ah dan 12V 3,5Ah, dengan bobot lebih ringan serta ukuran ringkas dibandingkan aki konvensional. Pengembangan produk tersebut dilakukan melalui unit bisnis Dharma Connect yang berfokus pada teknologi kendaraan listrik dan energi terbarukan. Head of Business Development DRMA Eko Maryanto mengatakan, pengembangan teknologi baterai tidak terlepas dari isu lingkungan global dan kebutuhan akan sistem penyimpanan energi yang lebih efisien. Ilustrasi mobil listrik “Kalau kita lihat, persoalannya sekarang adalah lingkungan. Kita bicara soal pemanasan global dan komitmen global seperti COP. Salah satu solusi yang sedang berkembang adalah teknologi lithium sebagai penyimpan energi,” kata Eko. Menurut Eko, baterai berbasis lithium tidak hanya dibutuhkan untuk kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung sistem energi terbarukan, seperti panel surya dan tenaga angin. “Energi dari surya dan angin itu butuh sistem penyimpanan. Saat ini, teknologi penyimpanan yang paling efisien masih berbasis lithium,” ujarnya. Ia menjelaskan, terdapat berbagai jenis baterai lithium yang digunakan sesuai kebutuhan. Untuk penggunaan massal, teknologi lithium iron phosphate (LFP) menjadi salah satu yang paling banyak digunakan karena lebih stabil dan fleksibel. “Kalau NMC lebih banyak dipakai di mobil listrik, tapi untuk penggunaan yang lebih luas, LFP justru lebih dominan. Di produk kami juga, penggunaan LFP lebih banyak,” kata Eko. Dari sisi performa, Eko menilai baterai lithium memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan aki konvensional, mulai dari daya tahan hingga usia pakai. “Dari performa, aki lithium lebih kuat dan lebih stabil. Umurnya juga bisa jauh lebih panjang, minimal sekitar lima tahun, bahkan bisa lebih lama, dengan bobot yang lebih ringan,” ujarnya. Baterai aki lithium Deputy Head of Business Development DRMA Steven Adrian Santoso mengatakan, perusahaan berupaya mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis. “Dengan portofolio yang lebih beragam, risiko usaha bisa lebih terkelola,” ujar Steven. DRMA sendiri menargetkan penjualan sekitar Rp 6 triliun pada 2025. Target tersebut ditopang oleh kinerja segmen roda dua dan roda empat, serta meningkatnya kontribusi dari bisnis kendaraan listrik dan non-otomotif. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang