Teknologi alat perekam perjalanan atau dashcam terus berkembang. Saat ini, hampir semua merek dashcam sudah tidak lagi menggunakan baterai bawaan. Rahmat, Senior Sales Executive PT Whiteeast Indonesia, distributor dashcam Blackvue, mengatakan produk dashcam berbasis baterai kini menghilang dari pasar karena sejumlah kelemahan. "Jadi gini, kalau dashcam pakai baterai memang lebih fleksibel, nggak ada kabel," kata Rahmat kepada Kompas.com, Kamis (27/11/2025). Dashcam di GJAW 2025 "Cuma kita jadi repot harus pemeliharaan. Kalau baterainya habis, kita harus ngecas dulu atau nyolok sambil dipakai," ujarnya. Rahmat menjelaskan, dashcam dengan baterai semakin ditinggalkan karena memiliki risiko lebih tinggi, terutama saat terpapar panas berlebih dari sinar matahari. "Risikonya, dashcam berbasis baterai saat parkir atau saat aktif siang hari itu kan panas. Ditambah terjemur matahari, lama-lama baterainya bisa melendung dan bahkan berpotensi meledak," ujarnya. Ia mengingatkan bahwa masalah ini pernah banyak terjadi di Indonesia pada masa awal masuknya teknologi dashcam. Pilihan dashcam baru di GIIAS 2025 "Dulu, zaman awal-awal dashcam masuk Indonesia, ada beberapa dashcam pakai baterai dan banyak kasus kejadian ledakan dalam mobil karena dashcam," kata Rahmat. "Sekarang sudah hampir nggak ada yang pakai baterai. Awal-awal masuk dashcam ke Indonesia di akhir 2012, banyak yang pakai baterai. Makanya brand-brand itu sekarang sudah hilang karena banyak kasus seperti itu," katanya. Saat ini, menurut Rahmat, mayoritas produk dashcam mengambil daya langsung dari sistem kelistrikan mobil. "Dia masuknya langsung ke listrik mobil, bisa ke lighter (port charging) atau ke aki langsung," kata Rahmat. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang