Pabrik Daihatsu di Karawang, Jawa Barat. Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Kukuh Kumara mengungkapkan, pasar otomotif nasional mengalami tren penurunan signifikan, terutama sejak dua hingga tiga tahun terakhir. GULIR UNTUK LANJUT BACA “Kalau kita lihat, penjualan kendaraan di Indonesia yang biasanya di atas 1 juta unit per tahun, bahkan bisa 1,2 hingga 1,3 juta unit, sekarang turun cukup jauh,” ujar Kukuh di Kemayoran, Jakarta.Data terakhir menunjukkan, total penjualan kendaraan secara wholesales pada 2025 hanya mencapai sekitar 803.000 unit. Angka ini turun dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 835.000 unit, sekaligus menjadi sinyal melemahnya pasar otomotif nasional.Penurunan ini membawa dampak besar, salah satunya adalah hilangnya posisi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di kawasan ASEAN. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, posisi tersebut kini diambil alih oleh Malaysia.“Selama puluhan tahun kita selalu menjadi yang terbesar di ASEAN. Tapi sekarang posisi itu sudah digeser,” kata dia.Menurut dia, kondisi ini tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama turunnya permintaan kendaraan, baik untuk segmen penumpang maupun kendaraan niaga.Daya beli yang menurun membuat konsumen cenderung menunda pembelian kendaraan, terutama untuk kebutuhan yang tidak bersifat mendesak. Hal ini berdampak langsung pada penjualan industri secara keseluruhan.Di sisi lain, tekanan terhadap industri juga datang dari faktor eksternal, termasuk meningkatnya persaingan dari produk impor. Namun, Kukuh menegaskan bahwa akar persoalan utama tetap berada pada kondisi pasar domestik yang belum pulih.Penurunan pasar ini turut memengaruhi kinerja industri kendaraan niaga, yang selama ini sangat bergantung pada aktivitas ekonomi seperti logistik, konstruksi, dan distribusi barang. Ketika aktivitas ekonomi melambat, permintaan terhadap truk dan bus juga ikut tertekan.Padahal, industri otomotif Indonesia memiliki kapasitas produksi yang besar dan bahkan sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik secara mandiri. Namun, tanpa dukungan permintaan yang kuat, potensi tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal.Kondisi ini menjadi tantangan serius, tidak hanya bagi produsen kendaraan, tetapi juga seluruh rantai pasok industri, mulai dari pemasok komponen hingga jaringan distribusi.Kukuh menilai, pemulihan pasar otomotif membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Stabilitas ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat, serta kebijakan yang mendukung industri menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan kembali.Selain itu, menjaga keseimbangan antara produksi dalam negeri dan produk impor juga dinilai krusial agar industri lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA “Kalau pasar tidak segera pulih, tentu dampaknya akan panjang, bukan hanya ke industri, tapi juga ke ekonomi secara keseluruhan,” ujarnya.Dengan kondisi saat ini, industri otomotif nasional dihadapkan pada tantangan ganda, yakni mempertahankan daya saing di dalam negeri sekaligus merebut kembali posisi strategis di kawasan ASEAN yang kini mulai bergeser.