Belum lama ini, beredar kabar pemerintah mau memperketat penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite khusus kendaraan bermesin di bawah 1.400 cc. Meski sudah dibantah oleh pihak Pertamina, tapi kabar tersebut bukan tidak mungkin direalisasikan. Dikabarkan bahwa kendaraan roda empat dengan kapasitas mesin tertentu akan dibatasi untuk mengonsumsi BBM dengan nilai oktan (RON) 90 tersebut. Salah satu kriteria yang kuat berembus adalah larangan bagi mobil bermesin di atas 1.400 cc. Agus Pambagio, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) sekaligus pengamat kebijakan publik, mengatakan, karena masih disubsidi, makanya mobil dengan mesin di atas 1.400 cc akan dilarang untuk menggunakan Pertalite. SPBU Jalan Kayoon Surabaya, menerima tiga laporan aduan konsumen terdampak pertalite per Rabu (29/10/2025) Meskipun sistem digitalisasi seperti aplikasi MyPertamina telah disiapkan sebagai instrumen pengawasan di SPBU, Agus menilai sistem tersebut masih memiliki celah dan tantangan besar dalam implementasinya di lapangan. "Perencanaannya memang begitu. Kan harus pakai MyPertamina, tapi MyPertamina juga tidak bisa akurat dan bisa juga dimainkan," ujar Agus, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Fenomena Mobil Mewah "Minum" Pertalite Selain masalah akurasi sistem pengawasan, fenomena pemilik mobil mewah yang masih mengonsumsi BBM subsidi juga menjadi sorotan tajam. Pasalnya, secara spesifikasi teknis, mobil modern dengan kompresi mesin tinggi sangat tidak direkomendasikan menggunakan bahan bakar beroktan rendah. Mobil mewah Toyota Fortuner diisi dengan Pertalite Agus menambahkan, banyak juga masyarakat yang tidak berpikir panjang dengan membiarkan mobil-mobil sekelas Toyota Alphard atau Voxy diisi dengan Pertalite yang memiliki nilai oktan RON 90. Efek jangka panjangnya, penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi justru berpotensi merusak komponen mesin, memicu gejala ngelitik (detonasi), dan menurunkan performa kendaraan. Pengendara roda dua saat mengisi bahan bakar subsidi di Di SPBU Pertamina 34.409.01, Jalan Terusan Kopo Katapang No.196, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). "Bisa beli mobil mahal begitu masa ngisinya pakai Pertalite, dan buat mobil sendiri juga kan enggak bagus. Jadi, orang Indonesia tuh inginnya sesaat. Dia ngirit, tapi dia enggak mikir panjang," kata Agus. Penjelasan Pertamina Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan, QR Code digunakan untuk mendata penyaluran atau distribusi BBM Bersubsidi yang dikonsumsi masyarakat. Untuk masyarakat mampu, diimbau untuk menggunakan BBM Non Subsidi. "Sehingga kendaraan mewah yang notabene spesifikasi BBM-nya disarankan dari pabrikan menggunakan BBM dengan RON tinggi, yang artinya BBM non subsidi, untuk menggunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan," ujar Roberth, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Roberth menegaskan BBM Subsidi diperuntukkan bagi konsumen yang berhak menerima BBM Subsidi. Namun, dia juga tidak menyebutkan adanya larangan bagi pemilik mobil mewah untuk menggunakan Pertalite. Sebab, Pertamina hanya memberikan imbauan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang