Presiden RI Prabowo Subianto mengumumkan Indonesia akan memiliki motor listrik nasional yang dijadwalkan meluncur dalam beberapa pekan mendatang. Motor nol emisi tersebut diharapkan dapat menjadi sarana mobilitas masyarakat, terutama petani di berbagai daerah. "Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional. Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor. Motor listrik," kata Prabowo saat menghadiri Panen Raya Bersama TNI di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jumat (17/7/2026). Rencana tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin mempercepat pengembangan industri kendaraan listrik nasional sekaligus mendukung transisi energi. Namun, di balik optimisme itu, sejumlah tantangan dinilai masih harus diselesaikan agar proyek tersebut tidak berhenti sebagai seremoni peluncuran semata. Gesits GV1 akhirnya resmi diperkenalkan ke publik dalam ajang Jakarta Fair 2025 Pengamat kendaraan listrik sekaligus Juru Bicara Komunitas Sepeda/Motor Listrik (KOSMIK) Indonesia, Hendro Sutono, menilai hingga saat ini publik masih belum memperoleh gambaran utuh mengenai proyek tersebut. "Hingga detik ini, wujud, spesifikasi teknis, maupun cetak biru proyek motor listrik garapan baru tersebut masih diselimuti kabut misteri," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (21/7/2026). Menurut Hendro, sejauh ini pemerintah baru menyampaikan rencana peluncuran dan visi penggunaan motor listrik untuk petani. Sementara itu, berbagai aspek teknis yang menjadi fondasi sebuah produk otomotif belum dipaparkan secara terbuka. "Namun, belum ada pemaparan transparan mengenai arsitektur teknologi yang diusung. Kita belum tahu dari mana sel baterai disuplai, siapa mitra manufakturnya, atau bagaimana skema rantai pasoknya akan dibangun," katanya. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. Pertanyaan Hendro menilai pengumuman yang terkesan mendadak justru memunculkan pertanyaan dari pelaku industri maupun masyarakat. "Pengumuman yang terkesan mendadak tanpa penjabaran teknis yang matang ini justru mengirimkan sinyal kewaspadaan bagi para pengamat dan pelaku industri," katanya. Menurut Hendro, membangun industri sepeda motor listrik nasional bukan sekadar merakit komponen dan memasang merek lokal. "Membangun kedaulatan kendaraan roda dua berskala masif bukanlah sekadar urusan merakit komponen dan menempelkan emblem nasional secara instan," katanya. Ia mengingatkan bahwa tanpa peta jalan yang jelas, termasuk sinergi dengan ekosistem industri baterai nasional seperti Danantara maupun Indonesia Battery Corporation (IBC), peluncuran tersebut berpotensi hanya menjadi kegiatan seremonial. PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur melakukan pengadaan 500 unit Polytron Fox 350. "Tanpa kejelasan peta jalan, khususnya mengenai kewajiban bersinergi dengan ekosistem raksasa yang sudah ada di bawah payung Danantara dan IBC peluncuran yang tergesa-gesa berpotensi sekadar menjadi panggung seremoni politis, alih-alih manuver strategis yang terukur untuk benar-benar memenangkan hati konsumen yang rasional," katanya. Sisi Konsumen Selain kesiapan industri, Hendro menilai tantangan terbesar justru datang dari karakter konsumen roda dua di Indonesia yang sangat rasional dalam menentukan pilihan kendaraan. Menurut dia, masyarakat tidak hanya melihat harga, tetapi juga mempertimbangkan jaminan layanan purnajual, keamanan, hingga nilai jual kembali kendaraan. "Konsumen roda dua di Indonesia adalah kelompok yang sangat rasional dan berhitung dengan cermat," katanya. "Mereka memikirkan jaminan garansi, kemudahan klaim suku cadang, standar keamanan baterai untuk mobilitas harian yang padat, serta kejelasan nilai jual kembali di pasar sekunder," ujar Hendro. Tiga motor listrik baru VinFast di Indonesia Karena itu, Hendro menilai pendekatan yang "hanya" mengandalkan semangat nasionalisme tidak cukup untuk menarik minat pasar. "Mengharapkan masyarakat menanggung risiko membeli produk baru yang belum teruji infrastrukturnya atas nama patriotisme belaka adalah sebuah kenaifan dalam strategi bisnis," katanya. Ia menambahkan, membangun industri kendaraan listrik merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan ekosistem yang matang. Tantangannya yaitu mencakup penguatan tingkat komponen dalam negeri, penguasaan teknologi baterai, standar keselamatan, hingga pembangunan jaringan layanan purnajual. Belajar dari Gesits Sebagai proyek motor listrik nasional yang telah lebih dulu hadir, Gesits dinilai dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah. Gesits merupakan merek sepeda motor listrik buatan Indonesia yang dikembangkan melalui kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan PT WIKA Industri Manufaktur (WIMA). Komparasi Gesits G1 Vs Polytron Fox 200 Motor ini mulai dipasarkan secara komersial pada 2019 dan menjadi salah satu pelopor kendaraan listrik roda dua produksi dalam negeri. Namun, dalam perjalanannya, kat Hendro, Gesits menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan kebijakan insentif kendaraan listrik, keterbatasan rantai pasok, hingga persaingan harga dengan merek-merek asal China yang menawarkan produk lebih beragam. Menurut Hendro, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi proyek motor listrik nasional yang baru. "Gesits telah menelan banyak pil pahit dari dinamika pasar yang ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan," katanya. "Pengalaman mereka dalam berhadapan dengan rantai pasok global, penyesuaian terhadap kebijakan insentif kendaraan listrik yang kerap berubah, dan persaingan harga dengan merek multinasional seharusnya menjadi literatur dan peta jalan yang sangat berharga bagi jalannya pemerintahan saat ini," ujar Hendro.