Banyak yang menganggap, insentif mobil listrik hanya berdampak baik untuk importasi kendaraan. Padahal, nyatanya, kebijakan fiskal itu mampu menjadi fondasi industri terkait. Apa saja buktinya?Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal BKPM, Roro Reni Fitriani mengatakan, insentif mobil listrik terbukti sangat berhasil di Indonesia. Hal itu tercermin dari lonjakan investasi yang terjadi selama dua tahun terakhir. BKPM mencatat, realisasi investasi sektor mobil listrik meningkat tajam hingga 147 persen selama periode 2023-2025 dengan total nilai mencapai Rp 36,1 triliun."Kita tidak serta-merta hanya membebaskan impor CBU masuk ke Indonesia, tapi secara jangka panjang pelaku usaha harus berkontribusi terhadap realisasi investasi. Hal ini membuktikan insentif efektif menarik komitmen jangka panjang, bukan sekadar membuka keran impor," ujar Roro melalui rilis resmi, dikutip Selasa (3/2).Pabrik Mobil Wuling di Cikarang Foto: Dok. Wuling Motors IndonesiaKementerian Perindustrian mencatat, saat ini terdapat 14 perusahaan yang berproduksi di Indonesia dengan kapasitas nasional mencapai sekitar 410 ribu unit per tahun. Fokus tahun ini akan beralih pada pendalaman manufaktur dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen.Bukan hanya itu, insentif juga membuat penjualan mobil listrik mengalami kenaikan drastis dari tahun ke tahun. Bahkan, sejak Perpres 79/2023 diterbitkan, pertumbuhan rata-ratanya mencapai 147 persen per tahun!"Elektrifikasi bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga bagian dari strategi kemandirian energi, mengingat 97% sumber listrik nasional berasal dari sumber domestik, berbeda dengan BBM yang masih bergantung pada impor," kata Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin.Rian Ernest dari AEML. Foto: Doc. AEMLPerpres 79/2023 dianggap berhasil menjalankan perannya dalam mempercepat pembentukan pasar kendaraan listrik nasional. Stimulus yang sejak awal dirancang bersifat sementara dalam program ini telah berakhir pada akhir 2025.Rian Ernest dari Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) mengungkap langkah selanjutnya untuk menjaga momentum tersebut. Dia melihat peluang mempererat kolaborasi dengan regulator, khususnya dalam transisi dari insentif fiskal menuju insentif non-fiskal."AEML ingin berkolaborasi lebih erat dengan regulator untuk mendorong insentif non-fiskal. Tujuannya agar masyarakat makin tergerak beralih menggunakan BEV karena kemudahan operasional yang ditawarkan dalam keseharian, tanpa harus selalu membebani keuangan negara," kata Rian.