Pengamat otomotif dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengatakan bahwa Indonesia sulit untuk meniru Vietnam dalam pengembangan kendaraan nasional. Hal tersebut berlandaskan dari banyaknya kepentingan yang berada pada konglomerat di dalam negeri sehingga berbagai keputusan mempunyai kecenderungan saling meniadakan. Berbeda dari pemimpin Vingroup, Pham Nhat Vuong. "Kita terlalu banyak konglomerat yang jalannya tidak kompak. Jadi kalau diambil resultannya jadi nol, saling meniadakan (bertubrukkan antar kepentingan). Dia (Vingroup) satu orang tapi fokus," kata Yannes ditemui di Subang, Jawa Barat, Senin (15/12/2025) lalu. Kendaraan Maung MV3 Garuda Limousine yang digunakan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri sidang tahunan MPR-RI, di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2025). "Kita tidak fokus. Besar tapi tidak fokus," lanjut Yannes. Padahal berdasarkan data Kemenperin, industri otomotif Indonesia menempati peringkat ke-2 di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) tepat berada di bawah Thailand. Hal itu lantas terbukti dari kontributor industri alat angkut yang menyumbang 1,28 persen ke PDB pada triwulan III/2025. Di dalamnya, industri otomotif memegang peran dominan sebagai penggerak manufaktur nasional. Saat ini terdapat 39 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas 2,39 juta unit per tahun, serta 82 pabrikan roda dua dan tiga berkapasitas 11,2 juta unit. Oktober 2025, produksi roda dua dan tiga mencapai 5,89 juta unit dengan ekspor 460.000 unit. Sementara segmen roda empat, produksinya mencapai 960.000 unit, serta 430.000 unit di antaranya diekspor. Menurut Data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) juga menunjukkan terdapat 1.412 IKM komponen alat angkut tersebar di berbagai daerah, memproduksi komponen bodi dan sasis, knalpot, interior, aksesori, plastik dan karet, hingga radiator dan produk modifikasi. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Pada program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), sebanyak 51 dari 274 pemasok komponen juga berasal dari IKM nasional. "Memang kita itu besar tetapi tidak ada kerja sama. Tidak ada satu komitmen yang sama. Jadi menurut saya, kita perlu kolaborasi yang benar, transparansi. Niat yang tulus, bukan mens rea," ucap Yannes. "Kolaborasinya triple helix (dunia pendidikan, industri, dan regulator). Tetapi saat ini kan dunia pendidikan itu masih jadi problem kita. Dunia usaha dan regulatornya juga harus ada pembenahan," lanjutnya. Sebelumnya, CEO VinFast Asia, Pham Sanh Chau menyampaikan bahwa Indonesia bisa mengambil contoh Vietnam dalam pengembangan mobil nasional yang kini telah dikenal sebagai VinFast. Namun terdapat satu fondasi utama yang harus dimiliki terlebih dahulu, yaitu kepemimpinan yang visioner, konsisten, dan berani mengambil risiko besar sejak awal. Ilustrasi mobil nasional Timor “Menurut saya, kalau ditanya lesson learned supaya mobil nasional bisa berhasil, yang pertama harus ada satu orang yang visioner seperti chairman kami,” ujar Chau. “Ia benar-benar passionate dan mendedikasikan diri untuk fokus mengembangkan mobil nasional. Bahkan beliau berani mengalokasikan dana hingga 17 miliar dollar AS untuk proyek ini,” lanjutnya. Ia menjelaskan, bagi Chairman Vingroup, pengembangan VinFast tidak diposisikan sebagai proyek komersial semata. Mobil nasional dipandang sebagai simbol kebanggaan nasional yang harus didukung secara menyeluruh, termasuk dengan memperkuat industri pendukung di dalam negeri. “Bagi chairman kami, ini bukan hanya soal bisnis atau uang, tetapi soal national pride. Oleh karena itu, banyak bantuan juga diberikan kepada industri pendukung agar pengembangan mobil nasional bisa berjalan bersama,” kata Chau. VinFast VF6 Komitmen tersebut, lanjut Chau, tecermin dari pernyataan Chairman Vingroup yang sempat viral ketika ditanya salah satu media internasional terkait hingga kapan akan terus berinvestasi di VinFast. “Saat itu beliau menjawab, ‘Saya akan berhenti berinvestasi jika sudah tidak ada uang lagi di kantong saya’. Dengan itu, beliau menegaskan akan terus mendukung pengembangan mobil nasional sampai titik terakhir,” ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang