Kemacetan parah yang terjadi di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, akibat adanya lajur yang ambles menjadi bukti nyata betapa rapuhnya sistem lalu lintas kita saat menghadapi penyempitan jalan (bottleneck). Dalam kondisi di mana jalanan menyempit drastis dari tiga atau empat lajur menjadi hanya satu lajur, kemacetan mengular panjang. Secara teori, kondisi bottleneck seperti ini bisa diurai secara mandiri oleh pengguna jalan dengan metode zipper merge atau pola resleting. Jadi kendaraan dari lajur kiri dan kanan bergerak maju secara bergantian satu demi satu. Kemacetan akibat jalan ambles di Lenteng Agung mengular hingga 3 kilometer sampai Flyover Tapal Kuda arah Depok. Namun, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, mengaku sangat pesimistis metode ini bisa berjalan mulus di tanah air. "Rekayasa lalu lintas yang merupakan mandiri atau self-attention ini kayaknya tidak bisa dilakukan di Indonesia dengan karakteristik pengguna kendaraan bermotor atau budaya Indonesia secara keseluruhan," ujar Jusri kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026). Menurut Jusri, akar permasalahannya terletak pada dua hal mendasar yang absen dari mayoritas pengguna jalan di Indonesia, yaitu empati dan pemahaman hukum. "Masyarakat kita tidak memperhatikan masalah empati. Kedua, karena ketidakpahaman dalam hal berlalu lintas. Itu juga akan mempersulit teknik zip ini," katanya. Jusri menambahkan bahwa di negara-negara maju, aliran lalu lintas di titik penyempitan bisa tetap bergerak karena adanya kesadaran kolektif. "Kekuatannya adalah empati untuk menghindari bottleneck. Kalau di luar negeri atau negara-negara maju, ini tidak ada masalah. Tanpa petugas pun mereka akan melakukan teknik zip merge ini," tutur Jusri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang