Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai wacana pengembangan mobil nasional tidak bisa dilakukan secara instan maupun sekadar mengandalkan pabrik perakitan dan peluncuran merek baru. Menurut Yannes, membangun kendaraan nasional yang berkelanjutan membutuhkan persiapan matang, terutama pada penguatan rantai pasok dan ekosistem industri komponen pendukung di dalam negeri. "Pembangunan mobil nasional ini tidak bisa dalam hitungan bulan. Kita harus siapin bukan hanya industri perakitan. Enggak cukup hanya merek, tapi kita harus siapin dulu ekosistem industri komponen pendukungnya," ujar Yannes di GIIAS 2026, Senin (3/8/2026). Proyek mobil nasional I2C yang digarap oleh PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) Ancaman Capital Flight Yannes menyoroti risiko munculnya fenomena capital flight atau larinya modal masyarakat ke luar negeri apabila angka penjualan kendaraan naik, tetapi masih bergantung pada komponen impor. Kondisi tersebut dinilai kontraproduktif bagi perekonomian nasional. Sebab, dana yang dikeluarkan masyarakat untuk membeli kendaraan justru akan mengalir kembali ke negara asal pemasok komponen. "Harus terjadi transfer teknologi. Jangan sampai seperti sekarang, penjualan naik tapi impor komponen ikut naik. Uang masyarakat yang beli mayoritas kembali ke negaranya," kata Yannes. Kuasai Teknologi Inti dan TKDN Riil Lebih lanjut, Yannes menekankan bahwa penetapan angka Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak boleh sekadar menjadi formalitas perakitan. Pemerintah harus memastikan adanya penguasaan teknologi inti oleh pelaku industri lokal. Peran pemerintah dinilai sangat krusial sebagai regulator yang mengawal proses transfer teknologi dan membangun fondasi industri pendukung secara nyata. "Jadi harus dilihat yang TKDN-nya makin tinggi, itu kuncinya. Tapi TKDN ini harus dengan penguasaan teknologi inti. Kuncinya lagi-lagi ada di pemerintah," pungkasnya.