Pada 2024, Pemerintah Indonesia menargetkan 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta unit kendaraan listrik roda dua mengaspal pada tahun 2030. Target tersebut kemudian dipangkas menjadi 2,9 juta hingga 3,8 juta unit. Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 85.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Dalam dokumen tersebut, pemerintah menargetkan penetrasi kendaraan listrik hingga 2030 khusus motor listrik mencapai 2,9 juta hingga 3,8 juta sepeda motor listrik. Meski targetnya sudah jauh lebih rendah, pencapaian target dianggap tetap tidak mudah. Pasalnya, waktu menuju 2030 kini hanya tersisa sekitar tiga setengah tahun. Motor listrik Sunra Wakil Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Bidang Pengembangan dan Penelitian Prabowo Kartoleksono menilai bahwa penetapan target saja tidak cukup. Pemerintah perlu memastikan seluruh langkah pendukung dijalankan agar sasaran tersebut dapat tercapai. Ia mengibaratkan target pemerintah seperti seorang pelajar yang ingin masuk sekolah favorit, tetapi tidak melakukan persiapan. "Saya, katakanlah waktu masih SD, ingin masuk ke SMA favorit. Target saya di sana. Tapi saya enggak belajar. Saya enggak ngapa-ngapain. Masih realistiskah target saya untuk masuk ke sekolah favorit itu? Enggak, kan?," katanya menjawab Kompas.com, belum lama ini. Target dan Langkah Nyata Prabowo mengatakan, setiap target yang ditetapkan seharusnya sudah disertai berbagai langkah yang harus dijalankan. Namun, menurut dia, persoalannya adalah tidak semua langkah tersebut terlaksana. Motor listrik Honda QC3 "Problemnya adalah pada saat pemerintah membuat satu target, itu sudah dipikirkan. Untuk bisa mencapai target ini harus ada A, B, C, D, E, F, mungkin sampai Z kadang-kadang," katanya. "Ini enggak dilakukan semua, atau hanya sebagian saja yang dilakukan. Sebagian lagi enggak. Gimana saya mencapai targetnya?," ujarnya. Prabowo menegaskan bahwa pencapaian target membutuhkan komitmen seluruh pihak yang terlibat, bukan hanya pemerintah sebagai pembuat kebijakan. "Paham ya maksudnya saya? Jadi sudah jelas," kata Prabowo. "Tapi menurut saya, apa yang kemudian harus dilakukan terhadap target itu sendiri dan pemain-pemainnya," ujarnya. Shuttle ojek motor listrik KTT G20 Masih Optimistis Komisaris Sunra Indonesia Ismeth Wibowo menyatakan target populasi motor listrik pada 2030 masih bisa dicapai apabila pemerintah kembali memberikan insentif pembelian motor listrik. Menurut Ismeth, insentif menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Indonesia. Untuk itu Ismeth berharap pemerintah segera merealisasikan kembali program insentif pembelian motor listrik yang sempat diwacanakan sebesar Rp 5 juta per unit. "Mudah-mudahan bulan depan ini, pemerintah jadi memberikan insentif buat motor listrik sebesar Rp 5 juta per unit," katanya.