Penjualan mobil di pasar nasional yang cenderung stagnan dan sulit menembus target satu juta unit per tahun disinyalir terjadi akibat jurang pemisah yang makin lebar antara kenaikan harga kendaraan dan kemampuan daya beli masyarakat. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai, kondisi pasar otomotif Indonesia saat ini terus mengalami penurunan jika dibandingkan dengan masa kejayaannya saat berada di kelompok 1 million club. "Daya beli kita naiknya sedikit, tapi harga si mobil ini naik lebih tinggi," ujar Yannes di GIIAS 2026, Senin (3/8/2026). cicilan Honda Brio Kenaikan Harga Tak Sebanding Daya Beli Yannes menjelaskan bahwa secara kumulatif, pabrikan mobil rutin menaikkan harga jual produknya sekitar lima hingga tujuh persen setiap tahun. Padahal, kenaikan harga tersebut dianggap tidak sejalan dengan laju inflasi maupun pergerakan nilai tukar mata uang. Di sisi lain, tingkat daya beli masyarakat Indonesia rata-rata hanya mengalami pertumbuhan di kisaran 2,4 persen sampai 2,5 persen per tahun. "Sangat tidak masuk akal harganya naik 5 sampai 7 persen tiap tahun. Daya beli masyarakat kita rata-rata cuma naik 2,4 sampai 2,5 persen per tahun. Artinya daya beli kita makin ketinggalan jauh dari harga manufaktur," kata Yannes. Minim Inovasi, Harga Terus Melambung Kondisi ini makin diperparah oleh minimnya inovasi substansial yang ditawarkan pada kendaraan mesin pembakaran internal (ICE). Yannes menyoroti bahwa pabrikan cenderung hanya memberikan pembaruan minor bertahap, namun menaikkan harga secara signifikan. Ia mencontohkan segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang saat pertama kali diperkenalkan memiliki batas harga di kisaran Rp 85 jutaan. Namun setelah belasan tahun berlalu, harganya kini telah melonjak hingga menembus Rp 200 juta. "Inovasinya sangat incremental, bertahap. Kita dipaksa membeli barang yang teknologinya itu-itu saja dengan harga yang terus naik. Makanya akumulasinya sekarang sampai Rp 200 jutaan. Ini yang membuat pasar makin jauh dari jangkauan daya beli," tutur Yannes.