Mobil Esemka viral di media sosial Sejarah otomotif Tanah Air pernah diwarnai oleh gelora patriotisme melalui berbagai proyek mobil nasional yang sangat ambisius. Sayangnya, mayoritas dari proyek-proyek ini harus menelan pil pahit dan terhenti di tengah jalan akibat berbagai faktor teknis maupun politis. Kebijakan pengembangan mobil lokal sejatinya telah dimulai sejak era Orde Baru dengan harapan menciptakan kemandirian industri manufaktur. Namun, ketergantungan pada teknologi asing dan minimnya riset mendalam membuat langkah tersebut sering kali goyah sejak awal diluncurkan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA TimorBerdasarkan penelusuran VIVA Otomotif Kamis 19 Februari 2026, proyek yang paling membekas dalam ingatan publik tentu saja adalah kehadiran mobil Timor yang dikelola oleh PT Putra Timor Nasional. Mobil ini sempat mendominasi jalanan berkat fasilitas bebas pajak barang mewah yang membuatnya dibanderol dengan harga sangat terjangkau.Kehadiran Timor memicu kontroversi di level internasional hingga digugat oleh produsen otomotif raksasa ke Organisasi Perdagangan Dunia. Belum sempat menyelesaikan polemik hukum tersebut, badai krisis moneter 1998 menghantam Indonesia dan seketika menghentikan denyut nadi produksi sedan ini.BimantaraSelain Timor, era 90-an juga mencatat kehadiran Bimantara yang diinisiasi melalui kerja sama strategis dengan pabrikan otomotif asal Korea Selatan. Mobil ini hadir dengan model Cakra dan Nenggala yang menyasar segmen sedan menengah bagi keluarga mapan di perkotaan.Nasib Bimantara tergolong tragis karena harus bersaing di bawah bayang-bayang keistimewaan yang diberikan pemerintah kepada proyek Timor milik kerabat dekat. Akibat tidak mendapatkan fasilitas pembebasan pajak yang serupa, harga jual Bimantara menjadi kurang kompetitif dan akhirnya tenggelam saat krisis ekonomi melanda.MaleoTerdapat pula sosok Maleo yang merupakan buah pemikiran visioner dari Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie, dengan konsep yang sangat orisinal. Berbeda dengan Timor atau Bimantara yang mengadopsi platform luar, Maleo dirancang sebagai mobil rakyat yang memiliki kandungan lokal sangat tinggi.Mesin Maleo direncanakan menggunakan teknologi dua tak yang inovatif serta bobot kendaraan yang sangat ringan untuk efisiensi bahan bakar. Proyek ini akhirnya terbengkalai karena pemerintah saat itu lebih memilih memprioritaskan proyek yang didukung oleh instruksi presiden secara khusus.KancilBeralih ke segmen kendaraan mungil, kita mengenal Kancil yang diproyeksikan sebagai pengganti transportasi publik seperti bajaj atau bemo yang mulai menua. Kendaraan ini didesain khusus agar aman dan nyaman digunakan di lingkungan perumahan serta jalanan sempit di ibu kota.Meski sempat diproduksi secara massal, Kancil gagal merebut hati masyarakat karena kendala dalam proses perizinan operasional yang cukup rumit. Harga jualnya yang dianggap terlalu mahal untuk ukuran kendaraan mikro juga membuat calon pembeli lebih memilih sepeda motor konvensional.EsemkaNama Esemka sempat mengguncang publik saat dipromosikan sebagai karya anak bangsa dari tangan-tangan kreatif siswa sekolah menengah kejuruan di Solo. Popularitasnya melesat tajam hingga mendapatkan ribuan pesanan dari berbagai pejabat serta instansi pemerintah di seluruh wilayah Indonesia.Namun, transisi dari prototipe menuju produksi massal skala industri ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama dan biaya yang masif. Hingga saat ini, eksistensi Esemka masih sering dipertanyakan publik karena ketersediaan unitnya di pasar umum tidak semasif riuh pemberitaannya. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Kegagalan beruntun ini menunjukkan bahwa membangun merek otomotif bukan sekadar masalah desain, melainkan juga ekosistem pendukung yang kuat. Tanpa adanya dukungan rantai pasok komponen lokal yang mumpuni, biaya produksi akan selalu kalah bersaing dengan pemain global.Kepercayaan konsumen juga menjadi faktor krusial karena masyarakat cenderung memilih kendaraan yang memiliki nilai jual kembali yang stabil. Selama produsen lokal belum bisa menjamin ketersediaan bengkel resmi secara merata, mimpi memiliki mobil nasional akan terus menghadapi tembok besar.