JAKARTA, KOMPAS.com — Upaya mendorong percepatan elektrifikasi kendaraan roda dua di Indonesia terus menghadapi dinamika di lapangan. Salah satu isu yang mencuat adalah pemerintah yang ingin mendorong 120 juta konversi motor listrik. Langkah tersebut tentunya mengundang pro dan kontra. Dukung Program Elektrifikasi, Puluhan Siswa SMK Lakukan Konversi Motor Listrik Pasalnya, dengan digalakkannya konversi motor listrik, dikhawatirkan akan berdampak pada industri motor listrik baru. Secara konsep, keduanya memang lahir dari pendekatan yang tidak sama. Program konversi ditujukan untuk mengubah motor berbahan bakar minyak menjadi listrik, sementara motor listrik baru merupakan produk yang sejak awal dirancang dengan teknologi elektrifikasi. Chief Marketing Officer Alva Putu Swaditya Yudha, mengatakan, pihaknya memandang program konversi motor listrik sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat transisi energi nasional dan menghormati tujuan besar di baliknya. "Konversi ini juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas yaitu percepatan transisi menuju ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh yang mencakup mobil, kendaraan komersial, hingga motor listrik, agar dampaknya lebih signifikan," ujar Adit, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Di sisi lain, kendaraan listrik yang dikembangkan secara baru juga memiliki peran penting dalam mempercepat transisi ini, terutama karena didukung oleh kesiapan industri yang lebih menyeluruh, mulai dari pengembangan produk, standar keselamatan, hingga dukungan ekosistem dan layanan purna jual," kata Adit. Menurut Adit, sebagai produsen motor listrik nasional, Alva sudah siap mendukung elektrifikasi Indonesia secara menyeluruh. Pabrik Alva di Cikarang telah tersertifikasi INDI 4.0 oleh Kementerian Perindustrian, dengan kapasitas manufaktur yang terstandarisasi dan siap memenuhi permintaan skala nasional. Bengkel konversi motor listrik di Solo, bisa mengajukan subsidi Rp 10 juta dari pemerintah "Lini produk kami, yaitu Alva One, Alva Cervo, hingga Alva N3 Next Gen, telah dirancang untuk menjawab kebutuhan berbagai segmen konsumen sebagai kendaraan utama harian, dengan TKDN di atas 40% sebagai bukti komitmen terhadap industri dalam negeri," ujarnya. Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, benar bahwa secara teori konversi dan motor listrik baru memang berangkat dari segmen yang berbeda. "Konversi lebih dekat ke pendekatan pro-rakyat karena memanfaatkan aset existing, sedangkan motor listrik baru lebih terkait pembangunan industri dan skala manufaktur," ujar Yannes. Bengkel konversi motor listrik murah baru dikenalkan Meski demikian, realitas di lapangan tidak sesederhana pembagian tersebut. Konsumen, sebagai pengguna akhir, tidak selalu melihat dari sudut pandang konsep atau tujuan kebijakan, melainkan dari aspek yang lebih praktis dan rasional. "Tetapi di lapangan, batas itu tidak pernah benar-benar tegas, karena konsumen tetap menghitung harga akhir, biaya cicilan, kepraktisan, garansi, dan nilai pakai harian secara rasional," kata Yannes. pertimbangan tersebut membuat motor konversi dan motor listrik baru pada akhirnya masuk dalam arena persaingan yang sama. Konsumen akan membandingkan keduanya secara langsung, mulai dari harga beli hingga kemudahan penggunaan dalam aktivitas sehari-hari. Yannes menambahkan, pada titik tersebut, motor konversi dan motor listrik baru akhirnya bersaing langsung. Menurutnya, agar target mulia transisi energi ini dapat terealisasi secara optimal, langkah paling strategis saat ini adalah memprioritaskan perbaikan ekosistem secara menyeluruh. Tanpa dukungan ekosistem yang kuat, baik dari sisi industri maupun konsumen, percepatan adopsi motor listrik berpotensi berjalan tidak optimal. Hal ini mencakup kesiapan industri komponen, ketersediaan layanan purna jual, hingga akses pembiayaan yang memudahkan masyarakat. "Dengan mengedepankan reformasi struktural yang kuat pada sektor industri komponen, inovasi skema pembiayaan, dan kepastian perlindungan konsumen, rencana besar ini akan bertransformasi dari sekadar visi menjadi program nyata yang berkelanjutan, aman, serta membawa manfaat ekonomi maksimal bagi negara dan masyarakat luas," ujarnya. Pada akhirnya, baik motor konversi maupun motor listrik baru memiliki peran penting dalam mendorong transisi energi di sektor transportasi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang