Rencana penetapan harga sepeda motor listrik nasional (Molinas) di kisaran Rp 18 jutaan dengan tawaran tanpa uang muka (DP) dan bunga rendah dinilai sebagai langkah strategis untuk menyasar segmen middle-low di Indonesia. Pengamat otomotif Yannes Martinus menjelaskan bahwa strategi pembiayaan ini perlu disesuaikan dengan segmentasi demografis penggunanya, terutama segmen mass market seperti pekerja ojek online (ojol), kurir, serta komuter harian. Fokus Pada Pekerja dan Komuter Bagi pengemudi ojol dan kurir harian, sepeda motor berfungsi sebagai alat produksi utama. Menurut Yannes, skema tanpa DP dan cicilan murah bertenor panjang dapat meruntuhkan hambatan modal awal bagi kelompok pekerja ini. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto "Sementara penghematan energi dapat langsung meningkatkan take-home pay selama keandalan kendaraan dan downtime terjaga," ujar Yannes kepada Kompas.com, Selasa (25/8/2026). Di sisi lain, bagi komuter harian seperti karyawan dengan rute tetap, biaya penggunaan motor listrik sebenarnya jauh lebih mudah diprediksi. Namun, keputusan beli segmen ini sangat bergantung pada faktor usia baterai, ketersediaan jaringan 3S (Sales, Service, Spare parts), serta nilai jual kembali. Peran Anchor Market untuk Membangun Kepercayaan Untuk mempercepat adopsi, Yannes menilai penggunaan institusi pemerintah, BUMN, dan lembaga publik sebagai anchor market memegang peranan vital. "Penggunaannya jangan sekadar menjadi jaminan penyerapan produksi, tetapi menjadi pembuktian nyata terhadap durabilitas produk sekaligus menciptakan volume awal," ungkapnya. Dengan volume awal dari instansi publik, produsen memiliki pijakan ekonomis untuk membangun skala produksi, memperluas jaringan servis, menyediakan suku cadang, hingga melatih teknisi yang handal. Ia menambahkan bahwa kombinasi skema tanpa menjawab pertanyaan konsumen soal keterjangkauan, sedangkan social proof dari penggunaan oleh instansi pemerintah menjawab keraguan kualitas tentang Molinas. Exotic Sprinter AT jadi motor listrik termurah di GIIAS dengan banderol Rp 9,9 juta. Ekosistem 3S dan Pasar Bekas Jadi Kunci Pergeseran preferensi masyarakat dari motor bensin ke motor listrik tidak bisa hanya mengandalkan harga murah akibat subsidi. Transisi organik baru akan terwujud apabila insentif pembiayaan diperkuat dengan jaminan baterai yang jelas, ketersediaan infrastruktur pengisian daya (charging) atau penukaran baterai (swap), layanan purna jual yang sigap, serta terbentuknya pasar kendaraan bekas yang sehat. Jika ekosistem pendukung tersebut sudah matang, konsumen dipastikan memilih sepeda motor listrik bukan sekadar karena murah, melainkan karena terbukti lebih menguntungkan dan andal digunakan sehari-hari.