Motor listrik kerap digadang-gadang sebagai solusi untuk menekan biaya operasional pengemudi ojek online (ojol). Maklum, pekerjaan ojol menuntut kendaraan bekerja hampir sepanjang hari sehingga pengeluaran untuk bahan bakar dan perawatan menjadi salah satu komponen biaya terbesar. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi mengatakan, pengemudi ojol dan kurir menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan efisiensi penggunaan motor listrik. Ilustrasi driver ojek online Menurut dia, dari sisi operasional, motor listrik memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan motor konvensional. Selain tidak membutuhkan bahan bakar minyak (BBM), biaya perawatannya juga relatif sederhana karena tidak menggunakan oli mesin. "Kalau kita tanya kepada para teman-teman kita yang pengemudi ojek atau kemudian pengiriman barang, mereka pasti kalau punya empat jempol akan semuanya sampaikan secara efisien," kata Budi, kepada Kompas.com belum lama ini. Biaya Operasional Lebih Murah Aismoli memaparkan data Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) dalam Aismoli Annual Meeting 2026. Berdasarkan data tersebut, biaya operasional sepeda motor listrik disebut 74-83 persen lebih murah dibandingkan sepeda motor berbahan bakar bensin. Angka tersebut tentu menarik bagi pengemudi ojol yang memiliki intensitas penggunaan kendaraan sangat tinggi. Semakin jauh jarak yang ditempuh setiap hari, potensi penghematan biaya energi pun semakin besar. Tempat mengecas motor listrik atau SPKLU dengan fitur fast charging di PLN KS Tubun Sebagai ilustrasi, apabila seorang pengemudi mengeluarkan Rp30.000 per hari untuk operasional motor bensin, penghematan 74-83 persen secara teoritis membuat biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp 5.100 sampai Rp 7.800 per hari. Dengan demikian, ada potensi penghematan sekitar Rp 22.200 hingga Rp 24.900 per hari. Jika pengemudi bekerja selama 26 hari dalam sebulan, penghematannya secara teoritis bisa mencapai sekitar Rp 577.000 sampai Rp 647.400 per bulan. Namun, perhitungan tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan persentase penghematan yang dipaparkan Aismoli dan ITDP. Kondisi setiap pengemudi tentu berbeda, sehingga angka penghematan riil tidak otomatis sama. Booth motor listrik Pacific di GIIAS 2025 Hemat Operasional, tetapi Ada Beban Awal Selain konsumsi energi, Budi menyoroti biaya perawatan motor listrik yang dinilai lebih sederhana. Kendaraan ini tidak memiliki oli mesin yang perlu diganti secara berkala. "Maintenance juga enggak ribet-ribet amat, enggak punya oli. Paling cuma cek rem, kelistrikannya, paling itu saja," ujarnya. Meski demikian, label "hemat" tidak serta-merta berarti motor listrik selalu lebih ringan bagi kantong pengemudi ojol. Seorang driver ojek online mengganti baterai motor listrik di salah satu SPKLU di SPBU MT Haryono Ada biaya awal yang perlu diperhitungkan, termasuk harga kendaraan, skema cicilan, biaya sewa baterai atau battery swap apabila digunakan, serta kebutuhan pengisian daya. Faktor jarak tempuh dan pola kerja juga menjadi penentu. Pengemudi dengan mobilitas tinggi membutuhkan akses pengisian atau penukaran baterai yang mudah agar waktu produktif tidak banyak terbuang. Karena itu, Aismoli menilai ekosistem pendukung menjadi kunci. Budi berharap pemerintah tidak hanya membuat regulasi, tetapi juga memastikan implementasinya berjalan melalui koordinasi lintas kementerian. Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi "Yang kita harapkan mungkin orkestrasi dari semuanya, supaya mungkin antarkementerian juga saling mendorong dan kemudian implementasi betul terhadap apa yang sudah menjadi regulasi itu sendiri," kata Budi. Dengan kata lain, motor listrik memang berpotensi menjadi solusi hemat bagi ojol, terutama dari sisi biaya energi dan perawatan. Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal jika persoalan harga kendaraan, pembiayaan, infrastruktur pengisian, hingga skema penggunaan baterai ikut disiapkan.