Pemilihan rute perjalanan sangat berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar mobil. Banyak orang mengira jarak terpendek selalu paling hemat, padahal kondisi lalu lintas justru lebih menentukan. Rute yang macet sering kali membuat konsumsi BBM meningkat. Hal ini disebabkan oleh kondisi stop-and-go yang membuat mesin bekerja tidak efisien. Saat mobil berhenti, mesin tetap menyala dan tetap mengkonsumsi bahan bakar. Kondisi ini disebut idle, di mana tidak ada jarak yang dihasilkan meski BBM terus terpakai. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan akselerasi dari posisi diam membutuhkan energi paling besar. Semakin sering mobil berhenti dan berjalan kembali, semakin boros konsumsi bahan bakarnya. “Rute yang lebih lancar memungkinkan mobil melaju dengan kecepatan stabil. Ini adalah kondisi ideal bagi mesin untuk bekerja secara efisien,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Minggu (12/4/2026). Pada kecepatan konstan, mesin tidak perlu sering melakukan akselerasi dan deselerasi. Hal ini membuat penggunaan bahan bakar menjadi lebih hemat. Ilustrasi penggunaan fitur navigasi di dalam mobil Berikut contoh simulasinya: Rute A (dekat tapi macet), jarak 5 kilometer dengan kecepatan rata-rata 15 kilometer per jam. Konsumsi di kondisi macet misalnya 1 liter / 8 kilometer. Hasilnya, BBM terpakai untuk jarak tersebut sekitar 0,63 liter. Rute B (lebih jauh tapi lancar) jarak 8 kilometer dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam. Konsumsi di jalan lancar misalnya 1 liter / 14 kilometer. Hasilnya, BBM terpakai hanya 0,57 liter. Simulasi sederhana tersebut menunjukkan perbedaannya. Rute dekat sejauh 5 km dalam kondisi macet bisa menghabiskan sekitar 0,63 liter bahan bakar. Sementara itu, rute lebih jauh sejauh 8 km dalam kondisi lancar hanya menghabiskan sekitar 0,57 liter. Ini menunjukkan bahwa jarak bukan satu-satunya faktor penentu. Mesin mobil Toyota GR Corolla di IIMS 2026 Perbedaan ini terjadi karena efisiensi mesin sangat dipengaruhi oleh beban kerja dan kestabilan putaran mesin. Jalan lancar membuat mesin bekerja pada kondisi optimal. “Meski begitu, rute dekat tetap bisa lebih hemat jika kondisi lalu lintas tidak terlalu padat. Jika kendaraan masih bisa bergerak stabil, konsumsi BBM bisa tetap efisien,” ucap Imun. Jika selisih jarak tidak terlalu jauh, memilih rute yang lebih lancar umumnya lebih menguntungkan. Stabilitas perjalanan menjadi kunci utama efisiensi. Kesimpulannya, rute yang lancar cenderung lebih hemat dibanding rute dekat yang macet. Faktor utama bukan jarak, melainkan pola berkendara dan kondisi lalu lintas. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang