Pilihan city car di Indonesia kini makin beragam, bahkan dengan pendekatan yang berbeda. Di satu sisi ada Honda Brio Satya yang masih mengandalkan mesin bensin (ICE), sementara di sisi lain hadir Changan Lumin sebagai mobil listrik murni. Menariknya, keduanya bermain di rentang harga Rp 180 jutaan. Dengan karakter yang berbeda, biaya operasional keduanya tentu jadi pertimbangan penting, apalagi untuk penggunaan harian. Secara spesifikasi, Honda Brio Satya dibekali mesin 1.200 cc, SOHC, 4-silinder, 16 katup, dengan teknologi i-VTEC. Di atas kertas, tenaga yang dihasilkan mencapai 88,7 Tk pada 6.000 rpm dan torsi 110 Nm pada 4.800 rpm. Sementara itu, Changan Lumin mengandalkan baterai berkapasitas 28,1 kWh dengan jarak tempuh hingga 301 km berdasarkan standar CLTC. Untuk performa, mobil ini menggunakan motor listrik tunggal di roda depan dengan tenaga maksimum 35 kW atau sekitar 46 Tk dan torsi 87 Nm. Untuk melihat mana yang lebih hemat, digunakan simulasi penggunaan harian dengan rute Jakarta–Tangerang pulang-pergi sejauh 60 km selama 30 hari. Changan Lumin Berdasarkan pengujian redaksi, konsumsi daya Changan Lumin berada di angka 8,5 km per kWh. Artinya, untuk menempuh jarak 60 km, mobil ini membutuhkan sekitar 7 kWh energi listrik. Jika mengacu pada tarif pengisian di SPKLU sebesar Rp 2.466,74 per kWh dan dibulatkan menjadi Rp 2.500 per kWh, maka biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 17.500 per hari. Dalam 30 hari, total biaya operasionalnya mencapai Rp 525.000. Sementara itu, Honda Brio mencatat konsumsi bahan bakar sekitar 16,6 km per liter. Dengan asumsi menggunakan Pertamax (RON 92) seharga Rp 12.300 per liter per April 2026, maka untuk menempuh jarak 60 km dibutuhkan biaya sekitar Rp 44.403 per hari. Jika dikalikan 30 hari, maka total biaya bahan bakar yang diperlukan mencapai Rp 1.332.090. Dari simulasi tersebut, terlihat bahwa biaya operasional Changan Lumin jauh lebih rendah dibandingkan Honda Brio. Selisihnya bahkan mencapai lebih dari Rp 800.000 per bulan untuk penggunaan harian dengan jarak yang sama. Namun, di luar hitungan biaya energi, ada sejumlah faktor lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan pilihan. Mobil listrik seperti Changan Lumin memang unggul dari sisi efisiensi biaya harian dan karakter berkendara yang lebih halus. Di sisi lain, mobil bermesin bensin seperti Honda Brio masih memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas penggunaan. Infrastruktur pengisian bahan bakar yang sudah merata membuatnya lebih mudah digunakan untuk perjalanan jauh, termasuk ke daerah yang belum memiliki fasilitas pengisian kendaraan listrik. Selain itu, waktu pengisian energi juga menjadi pertimbangan. Pengisian bahan bakar pada mobil konvensional dapat dilakukan dalam hitungan menit, sementara mobil listrik membutuhkan waktu lebih lama, terutama jika mengandalkan pengisian di rumah atau fasilitas umum dengan daya terbatas. Faktor lain yang tak kalah penting adalah ketersediaan jaringan servis dan suku cadang. Untuk merek Honda, jaringan bengkel dan ketersediaan komponen sudah sangat luas di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, ekosistem mobil listrik masih terus berkembang dan cenderung lebih terkonsentrasi di kota-kota besar, khususnya di Pulau Jawa. Ilustrasi bengkel Honda Selain itu, jarak tempuh juga menjadi batasan tersendiri bagi mobil listrik. Meski secara teori mampu menempuh hingga 301 km, angka tersebut bisa berbeda tergantung kondisi penggunaan di lapangan. Dengan demikian, pilihan antara mobil listrik dan mobil bermesin konvensional tidak semata-mata soal mana yang lebih murah, tetapi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan, pola penggunaan, serta ketersediaan infrastruktur di masing-masing wilayah. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang