Segmen MPV 7 penumpang kini tidak hanya diisi mobil bermesin bensin, tapi juga mulai diramaikan model elektrifikasi. Contohnya BYD M6 yang mengusung tenaga listrik murni, serta Toyota Veloz Hybrid yang memadukan mesin bensin dengan motor listrik. Meski berada di segmen 7 penumpang, keduanya menawarkan pendekatan berbeda, termasuk dalam hal biaya operasional harian. Secara spesifikasi, BYD M6 yang dipasarkan di Indonesia dibekali baterai berkapasitas 55,4 kWh untuk tipe Standard dengan jarak tempuh 420 km. Sementara tipe Superior menggunakan baterai 71,8 kWh dengan jarak tempuh hingga 530 km. Di sisi lain, Veloz Hybrid mengandalkan mesin 1.500 cc berkode 2NR-VEX yang dipadukan dengan transmisi CVT. Mesin tersebut mampu menghasilkan tenaga 111 PS atau sekitar 109,4 hp pada 5.500 rpm. Untuk torsi, mesin bensin menghasilkan 121 Nm, sementara motor listrik menyumbang 141 Nm. Untuk melihat perbandingan biaya, saya menggunakan simulasi penggunaan harian dengan rute Jakarta–Tangerang pulang-pergi sejauh 60 km selama 30 hari. Berdasarkan pengujian redaksi, konsumsi daya BYD M6 berada di angka 5,7 km per kWh. Artinya, untuk menempuh jarak 60 km, mobil ini membutuhkan sekitar 10,5 kWh energi listrik. BYD M6 Jika mengacu pada tarif pengisian di SPKLU sebesar Rp 2.466,74 per kWh dan dibulatkan menjadi Rp 2.500 per kWh, maka biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 27.000 per hari. Dalam 30 hari, total biaya operasionalnya mencapai Rp 810.000. Sementara itu, Veloz Hybrid mencatat konsumsi bahan bakar sekitar 23,5 km per liter. Dengan asumsi menggunakan Pertamax (RON 92) seharga Rp 12.300 per liter per April 2026, maka untuk menempuh jarak 60 km dibutuhkan biaya sekitar Rp 30.750 per hari. Jika dikalikan 30 hari, total biaya bahan bakar yang diperlukan mencapai Rp 922.500. Dari simulasi tersebut, terlihat bahwa biaya operasional BYD M6 sedikit lebih rendah dibandingkan Veloz Hybrid. Selisihnya sekitar Rp 100.000 per bulan untuk penggunaan harian dengan jarak yang sama. Namun demikian, selisih tersebut tidak terlalu jauh, sehingga ada sejumlah faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan. Mobil listrik seperti BYD M6 menawarkan keunggulan dari sisi biaya energi yang relatif lebih murah serta karakter berkendara yang halus dan senyap. Di sisi lain, mobil hybrid seperti Veloz tetap memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas. Pengisian bahan bakar dapat dilakukan dengan cepat di SPBU yang sudah tersebar luas, tanpa perlu khawatir soal ketersediaan infrastruktur seperti SPKLU. Selain itu, hybrid juga tidak memiliki kekhawatiran terkait jarak tempuh dalam penggunaan jarak jauh, karena tetap mengandalkan mesin bensin. Hal ini membuatnya lebih mudah digunakan di berbagai kondisi, termasuk di luar kota besar atau luar Pulau Jawa. Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah jaringan purna jual. Mobil bermesin bensin maupun hybrid umumnya memiliki jaringan bengkel yang lebih luas serta ketersediaan suku cadang yang lebih merata. Sementara itu, ekosistem mobil listrik di Indonesia masih terus berkembang dan cenderung terpusat di wilayah tertentu. Namun perlu dicatat, perhitungan biaya operasional ini masih bersifat kasar dan hanya sebagai gambaran umum. Konsumsi daya maupun bahan bakar dapat berbeda tergantung gaya berkendara, kondisi lalu lintas, hingga beban kendaraan. Dengan demikian, baik BYD M6 maupun Veloz Hybrid memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing. Pilihan terbaik tetap bergantung pada kebutuhan, pola penggunaan, serta kesiapan infrastruktur di lingkungan pengguna. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang