Kendaraan listrik mulai menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menekan biaya penggunaan kendaraan sehari-hari. Selain harga energi, biaya perawatan juga menjadi salah satu pertimbangan sebelum membeli mobil listrik. Lantas, apakah mobil listrik saat ini sudah lebih ekonomis dibandingkan mobil konvensional untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari? Vemri Ardhika, pemilik Wuling Eksion yang sebelumnya menggunakan Toyota Fortuner mengatakan, penggunaan mobil listrik membuat pengeluaran menjadi lebih rendah. “Sekarang sekitar Rp 120.000 per minggu. Kalau Fortuner, untuk solar sekitar Rp 400.000 per minggu,” ucapnya kepada Kompas.com, Sabtu (5/9/2026). Ia juga mengatakan, sementara kalau menggunakan Dex atau Dexlite, bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per minggu. Senada, Gregy pemilik BYD Atto 1 yang sebelumnya menggunakan Honda Freed mengatakan, penghematan paling terasa setelah beralih ke mobil listrik bukan hanya dari biaya pengisian daya, tetapi juga pajak dan perawatan kendaraan. Test Derive BYD Atto 1 “Kalau per bulan, dulu untuk bensin bisa sekitar Rp 1,2 juta sampai Rp 1,5 juta. Sekarang setelah menggunakan mobil listrik, pengeluarannya menjadi sekitar Rp 400.000 per bulan,” katanya kepada Kompas.com. Jika dihitung dalam setahun, perbedaan biaya operasional tersebut semakin terlihat. “Untuk bensin sekitar Rp 14 juta sampai Rp 18 juta per tahun, sedangkan listrik sekitar Rp 4,8 juta. Kemudian untuk pajak, mobil bensin sekitar Rp 4 juta, sementara BYD Atto 1 ini hanya sekitar Rp 400.000,” katanya. Selain biaya energi dan pajak, biaya servis juga menjadi salah satu pengeluaran yang berbeda antara mobil bensin dan mobil listrik. “Untuk servis, mobil bensin dalam setahun bisa empat kali dengan biaya sekitar Rp 4 juta. Sementara mobil listrik diperkirakan sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta per tahun, meskipun belum pernah servis karena belum setahun. Jadi, total pengeluaran mobil bensin diperkirakan sekitar Rp 22 juta sampai Rp 26 juta per tahun, sedangkan mobil listrik sekitar Rp 6 juta. Selisihnya bisa Rp 16 juta sampai Rp 20 juta per tahun. Tapi itu belum termasuk penggantian ban, wiper, dan komponen lainnya,” ucapnya. Sementara, Pengamat otomotif Yannes Martinus mengatakan, dari sisi biaya penggunaan, kendaraan listrik memiliki keunggulan yang cukup kuat, terutama jika pengisian daya dilakukan di rumah. "Dari sisi biaya penggunaan sehari-hari, terlepas dari konsumen yang membeli EV sebagai kendaraan tambahan selain mobil bensin seperti untuk life style, EV memang mempunyai keunggulan biaya operasional yg cukup kuat, terutama bila pengisian dilakukan di rumah,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat (4/9/2026). Ilustrasi Innova Zenix Ia juga mengatakan, biaya energi per kilometernya secara umum dapat sekitar 60 persen sampai 80 persen lebih rendah dibanding mobil bensin sekelasnya. “Tentunya tergantung tarif listrik, harga BBM, dan efisiensi masing-masing kendaraan. Biaya perawatan EV juga cenderung lebih rendah karena tidak ada penggantian oli mesin dan jumlah komponen bergeraknya lebih sedikit,” ucapnya. Menurut Yannes, penghematan tersebut terutama terlihat dari biaya energi yang dikeluarkan untuk setiap kilometer perjalanan. Namun, besarnya penghematan tetap bergantung pada tarif listrik, harga BBM, serta tingkat efisiensi masing-masing kendaraan. Selain biaya energi, kendaraan listrik juga memiliki biaya perawatan yang cenderung lebih rendah karena konstruksinya tidak membutuhkan sejumlah perawatan rutin seperti mobil bermesin pembakaran internal. Meski biaya penggunaan menjadi salah satu keunggulan mobil listrik, Yannes mengingatkan bahwa konsumen tidak hanya melihat perbandingan harga listrik dengan BBM. Menurutnya, calon pembeli kendaraan listrik kini mulai mempertimbangkan Total Cost of Ownership (TCO) atau total biaya kepemilikan kendaraan selama beberapa tahun. "Tetapi konsumen sekarang sebenarnya tidak sekadar membandingkan biaya listrik dengan bensin. Mereka mulai menghitung Total Cost of Ownership (TCO) selama beberapa tahun, mulai harga beli, bunga pembiayaan, asuransi, perawatan, kondisi dan garansi baterai, sampai nilai jual kembali,” ucapnya. Semakin tinggi mileage tahunan, semakin besar pula penghematan operasional EV untuk mengompensasi selisih harga pembelian awalnya. “Sebaliknya, bagi pengguna dengan jarak tempuh rendah, periode balik modalnya bisa lebih panjang,” ucapnya. Sementara itu, Yannes menjelaskan, pengguna dengan jarak tempuh tinggi akan memiliki peluang lebih besar untuk merasakan manfaat ekonomi dari kendaraan listrik. "Sebagai gambaran, pada penggunaan di bawah sekitar 30 km per hari, keunggulan TCO EV biasanya belum terlalu kuat karena penghematan energi tahunannya relatif terbatas. Memasuki 50–70 km per hari, keekonomiannya mulai semakin menarik, sedangkan pada penggunaan 70–100 km per hari atau lebih, keuntungan biaya operasional EV semakin kuat dan lebih cepat terakumulasi," ucapnya. Jadi, mobil listrik dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis untuk mobilitas sehari-hari. Namun, konsumen tetap perlu menghitung biaya kepemilikan secara menyeluruh, bukan hanya membandingkan biaya listrik dan BBM.