Sistem tukar atau battery swap menjadi salah satu pilihan bagi pengguna sepeda motor listrik untuk mendapatkan energi tanpa harus menunggu proses pengisian daya selesai. Berbeda dengan skema beli atau sewa baterai yang berkaitan dengan kepemilikan dan risiko baterai, battery swap lebih berkaitan dengan cara pengguna mendapatkan energi untuk kembali melanjutkan perjalanan. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, kebutuhan pengguna dengan mobilitas tinggi tidak hanya bisa dihitung berdasarkan biaya listrik yang digunakan. "Sedangkan untuk ojol (ojek online) atau kurir yang bisa menempuh lebih dari 80 km sehari, persoalannya bukan lagi sekadar rupiah per kWh, tetapi waktu produktif," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Pengemudi ojek daring mengganti baterai sepeda motor listrik dengan yang sudah penuh terisi di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) di SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta, Senin (28/3/2022). Pemerintah Indonesia menargetkan dua juta kendaraan listrik dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia pada 2025 sebagai salah satu upaya untuk menerapkan penggunaan energi terbarukan. Waktu Menjadi Pertimbangan Bagi pengemudi ojol maupun kurir, motor merupakan bagian dari aktivitas pekerjaan. Semakin lama kendaraan berhenti untuk mengisi daya, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk kembali menerima order. "Menunggu charging berarti kehilangan order," kata Yannes. Karena itu, kebutuhan energi untuk pengguna dengan jarak tempuh tinggi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pengguna motor listrik untuk mobilitas harian biasa. Pada pengguna dengan jarak tempuh lebih dari 80 km per hari, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi baterai dapat menjadi pertimbangan tersendiri. Sistem battery swap memungkinkan pengguna mengganti baterai yang dayanya sudah rendah dengan baterai yang telah terisi. Pengemudi ojek daring mengganti baterai sepeda motor listrik dengan yang sudah penuh terisi di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) di SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta, Senin (28/3/2022). Pemerintah Indonesia menargetkan dua juta kendaraan listrik dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia pada 2025 sebagai salah satu upaya untuk menerapkan penggunaan energi terbarukan. Konsep tersebut sebelumnya memang dikembangkan melalui Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). Sistem ini memungkinkan pengguna mendapatkan baterai terisi tanpa harus menunggu proses pengisian baterai dari kondisi rendah hingga penuh. Swap untuk Pengguna dengan Mobilitas Tinggi Menurut Yannes, kebutuhan pengguna menjadi faktor utama dalam menentukan apakah battery swap relevan digunakan. "Jadi, sederhananya, beli baterai untuk pengguna ringan, sewa baterai untuk kepastian biaya baterai, dan swap battery untuk pengguna yang begitu concern dengan waktu dikaitkan dengan produktivitas kerja mereka, misalnya untuk ride hailing dan untuk logistik," ujar Yannes. Pengemudi ojek daring mengganti baterai sepeda motor listrik dengan yang sudah penuh terisi di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) di SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta, Senin (28/3/2022). Pemerintah Indonesia menargetkan dua juta kendaraan listrik dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia pada 2025 sebagai salah satu upaya untuk menerapkan penggunaan energi terbarukan. Artinya, battery swap tidak semata-mata ditujukan untuk mencari biaya energi paling rendah. Bagi pengguna yang mengandalkan sepeda motor sebagai sarana mencari penghasilan, waktu juga memiliki nilai ekonomi. Dengan pola tersebut, pengguna ride hailing maupun logistik dapat mempertimbangkan sistem tukar baterai ketika kebutuhan utamanya adalah meminimalkan waktu berhenti untuk mengisi daya. Sementara itu, pengguna dengan mobilitas lebih rendah masih dapat menggunakan pengisian daya secara konvensional, terutama ketika motor lebih banyak terparkir dan tersedia waktu untuk melakukan pengisian.