Upaya pengembangan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) terus digencarkan di Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk mengakselerasi adopsi kendaraan listrik di tengah masyarakat. Akan tetapi, ada pandangan yang menyebutkan bahwa keberadaan fasilitas-fasilitas ini bukanlah satu-satunya syarat mutlak agar motor listrik dapat diterima secara luas. Menurut pengamat kendaraan listrik, Hendro Sutono, pola penggunaan motor listrik memiliki perbedaan fundamental dibandingkan dengan kendaraan bermesin bensin. Tempat mengecas motor listrik atau SPKLU dengan fitur fast charging di PLN KS Tubun Oleh karena itu, pendekatan dalam pengisian energinya pun seharusnya tidak disamakan. Hendro berpendapat bahwa terlalu menonjolkan pembangunan SPKLU dan SPBKLU di ruang publik justru berpotensi menciptakan persepsi yang kurang tepat di kalangan masyarakat. "Kampanye yang menonjolkan 'pom bensin gaya baru' justru memvalidasi range anxiety atau ketakutan yang sebenarnya bisa dieliminasi dengan edukasi pola pengisian daya yang benar," kata Hendro kepada Kompas.com, Rabu (22/7/2026). "Motor listrik sejatinya tentang kemandirian energi, bukan ketergantungan pada stasiun pengisian publik," ujarnya. Mengubah Kebiasaan Hendro menjelaskan bahwa menggunakan motor listrik berarti pengguna harus siap untuk mengubah kebiasaan lama mereka. Ini bukan sekadar "meniru" cara pakai yang sama seperti motor bensin pada umumnya. Hendro, yang juga merupakan Juru Bicara Komunitas Sepeda/Motor Listrik (KOSMIK) Indonesia, mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna motor listrik justru menemukan efisiensi tertinggi saat mengisi daya di rumah pada malam hari. Komparasi motor listrik VinFast Viper dan Honda Icon e: Pola pengisian daya ini dinilai jauh lebih praktis, sebab kendaraan sudah siap digunakan keesokan harinya tanpa perlu mampir ke tempat pengisian publik. "Faktanya, mayoritas pengisian daya motor listrik paling efisien dilakukan di rumah pada malam hari. Polanya persis seperti mengisi daya ponsel yaitu praktis, murah, dan mandiri," katanya. Oleh karena itu, menurut Hendro, tantangan terbesar dalam memperluas penggunaan motor listrik bukan hanya tentang menambah jumlah SPKLU semata, melainkan lebih kepada mengubah kebiasaan masyarakat. "Mengubah perilaku pengguna dari kebiasaan 'mengisi tangki' menjadi 'pengisian daya rutin' di rumah adalah kunci utama adopsi massal," katanya. Hendro menilai bahwa narasi yang terus-menerus mengaitkan keberhasilan motor listrik dengan keberadaan SPKLU di berbagai lokasi justru dapat menghilangkan salah satu keunggulan utama kendaraan listrik. "Narasi yang terus-menerus memaksa keberadaan SPKLU di setiap tikungan justru menjadi langkah kontraproduktif yang merusak keunggulan alami motor listrik," ujarnya. SPKLU dan SPBKLU Meskipun demikian, Hendro menegaskan bahwa keberadaan SPKLU maupun SPBKLU tetap memegang peran penting dalam ekosistem kendaraan listrik. Namun, khusus untuk motor listrik, fasilitas-fasilitas ini sebaiknya dipandang sebagai solusi bagi kelompok pengguna tertentu yang memang membutuhkan, bukan sebagai syarat mutlak adopsi motor listrik secara keseluruhan. "Tentu, bukan berarti kita menolak SPKLU dan SPBKLU sepenuhnya. Fasilitas ini harus diposisikan ulang fungsinya sebagai alternatif yang esensial bagi kelompok-kelompok dengan keterbatasan akses," ujarnya. Test ride motor listrik Alva N3 Ia menjelaskan bahwa kelompok pertama yang sangat membutuhkan SPKLU adalah masyarakat yang memiliki daya listrik rumah 450 VA atau 900 VA. Daya listrik yang terbatas ini tidak memungkinkan mereka untuk menambah beban pengisian daya kendaraan di rumah. "Pertama, bagi masyarakat dengan daya listrik rumah 450 VA atau 900 VA yang secara teknis tidak memungkinkan untuk menambah beban charging di rumah," katanya. Selain itu, SPKLU maupun SPBKLU juga dinilai krusial bagi pengguna dengan intensitas penggunaan kendaraan yang sangat tinggi. Contohnya adalah para pengemudi ojek online maupun kurir logistik yang mobilitasnya sangat bergantung pada kendaraan. "Selain itu, SPKLU dan SPBKLU tetap krusial bagi kelompok dengan utilitas tinggi seperti pengemudi ojek online dan kurir logistik yang membutuhkan perputaran baterai cepat agar operasional mereka tidak berhenti," kata Hendro. "Begitu pula bagi penghuni hunian vertikal seperti apartemen atau rumah tanpa garasi pribadi yang tidak memiliki akses untuk mengecas di rumah," ujarnya.