Motor listrik semakin mendapat tempat di Indonesia, tetapi persoalan pengisian daya masih menjadi salah satu pertanyaan terbesar bagi masyarakat. Apalagi untuk pengguna dengan mobilitas tinggi seperti ojek online (ojol) dan kurir yang bisa menempuh jarak hingga ratusan kilometer dalam sehari. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi mengatakan, sebenarnya pengisian daya motor listrik jauh lebih sederhana dibandingkan mobil listrik. Seorang driver ojek online mengganti baterai motor listrik di salah satu SPKLU di SPBU MT Haryono Pengguna tidak selalu membutuhkan stasiun pengisian khusus karena baterai bisa diisi menggunakan sumber listrik yang tersedia. "Motor listrik itu sangat mudah, tinggal bawa colokannya di mana pun ada. Cuma mungkin persepsi masyarakat kalau misalnya habis enggak ada SPKLU-nya seperti mobil," kata Budi, kepada Kompas.com belum lama ini. Namun, kebutuhan pengisian daya menjadi berbeda ketika motor digunakan sebagai kendaraan untuk mencari nafkah. Di sinilah pilihan antara battery swap dan mengisi daya di rumah menjadi relevan. Ilustrasi mengecas motor listrik di SPKLU Cas di Rumah Cocok untuk Harian Untuk pengguna dengan jarak tempuh relatif pendek dan pola perjalanan yang teratur, pengisian baterai di rumah masih menjadi pilihan paling sederhana. Motor bisa digunakan pada siang hari, kemudian baterainya diisi ketika kendaraan kembali ke rumah. Cara ini tidak membutuhkan pengguna mencari lokasi penukaran baterai atau stasiun pengisian selama perjalanan. Persoalannya, pola penggunaan sepeda motor di Indonesia tidak selalu demikian. Banyak masyarakat menggunakan motor untuk bekerja dengan jarak tempuh yang jauh dan waktu operasional panjang. Ilustrasi fast charging buat mengecas motor listrik Budi mencontohkan pengemudi ojol dan kurir yang bisa menempuh jarak sekitar 100 kilometer atau bahkan lebih dalam sehari. "Kalau motor di kita ini kan bukan hanya sekadar dari rumah ke sekolah, rumah ke kantor, rumah ke pasar. Banyak masyarakat kita yang menggunakan sepeda motor untuk kepentingan bekerja, seperti ojek online, kurir, kemudian untuk pengantaran barang yang satu hari bisa sekitar 100 km bahkan lebih," ujarnya. Menurut Budi, satu baterai lithium pada motor listrik rata-rata mampu menempuh sekitar 80 km dalam kondisi baterai masih bagus. Artinya, bagi pengemudi dengan jarak tempuh 100 km sehari, mengandalkan satu kali pengisian dari rumah saja berpotensi tidak mencukupi. Ilustrasi baterai motor listrik Gesits Apalagi, pengemudi bisa saja bekerja jauh dari tempat tinggal. Budi memberikan gambaran pengemudi dari Bekasi yang bekerja mengantarkan penumpang di Jakarta. Tidak mungkin pengemudi harus kembali ke rumah hanya untuk mengisi baterai. Battery Swap Jadi Alternatif untuk Ojol dan Kurir Dalam kondisi seperti itu, battery swap atau penukaran baterai dapat menjadi solusi yang lebih praktis. Pengemudi tidak perlu menunggu baterai terisi penuh. Baterai yang sudah habis atau hampir habis dapat ditukar dengan baterai yang sudah terisi di lokasi yang tersedia. Konsep ini membuat waktu operasional kendaraan tetap terjaga. Bagi ojol dan kurir, faktor tersebut sangat penting karena waktu yang digunakan untuk mengisi baterai berarti berpotensi mengurangi waktu menerima pesanan. Swap baterai motor listrik Honda "Kalau satu hari harus bergerak 100 km, berarti kan nanti akan habis di jalan. Ngecas-nya di mana? Pulang lagi enggak mungkin," kata Budi. Karena itu, Budi menilai tantangan terbesar bukan semata-mata teknologi baterai, melainkan ketersediaan infrastruktur yang sesuai dengan pola mobilitas masyarakat Indonesia. Saat ini, menurut dia, infrastruktur pengisian kendaraan listrik memang masih lebih banyak diarahkan untuk mobil listrik. Alva Boost Charge Station, atau SPKLU dengan waktu pengisian daya singkat khusus motor listrik Alva. Namun, ekosistem pengisian untuk motor listrik mulai berkembang, termasuk dengan munculnya investor swasta yang mulai melihat peluang dari besarnya populasi sepeda motor. Dengan karakteristik tersebut, cas di rumah dan battery swap sebenarnya bukan pilihan yang harus saling menggantikan. Cas di rumah lebih cocok untuk penggunaan rutin dengan jarak tempuh yang dapat diprediksi, sedangkan battery swap menjadi opsi menarik bagi pengguna dengan mobilitas tinggi seperti ojol dan kurir.