Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong adanya standardisasi steker dan soket (plug and socket) untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Indonesia. Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rahman Priandana, mengatakan salah satu hambatan utama adopsi kendaraan listrik, baik global maupun nasional, adalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya, tingginya biaya baterai, serta kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh. “Di Indonesia, tantangan tersebut diperkuat oleh masih terbatasnya investasi pada infrastruktur penukaran baterai maupun pengisian cepat,” kata Eka dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026). Soket untuk pengisian daya mobil listrik Wuling Air Ev di ajang Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2022 di JIExpo Kemayoran, Rabu (27/7/2022). Selain desainnya yang compact, pengisian daya Air ev bisa dilakukan di rumah dengan memperhatikan terlebih dahulu kapasitas listrik rumah, mengusung konsep easy home charging. Ia menambahkan, model bisnis battery swapping yang saat ini berkembang juga masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kebutuhan investasi tinggi hingga skema berbagi keuntungan dengan penyedia listrik. Di sisi lain, tren teknologi mulai mengarah pada kendaraan listrik roda dua dengan baterai tanam berkapasitas besar (long range), yang membutuhkan dukungan infrastruktur fast charging yang andal. “Interoperabilitas menjadi kunci. Tanpa standar plug dan socket yang seragam, ekosistem pengisian daya tidak akan berkembang optimal,” ujarnya. Untuk itu, BRIN menginisiasi pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk steker dan soket pengisian cepat kendaraan listrik roda dua. Desainnya mengacu pada standar internasional IEC 62196-6, dengan penyesuaian karakteristik lokal. Eka menjelaskan, standardisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kompatibilitas antarperangkat, mendorong investasi stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), serta memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN). “Selain itu, pendekatan ini juga memungkinkan produsen kendaraan untuk berinovasi tanpa harus menyeragamkan desain baterai,” kata dia. Pole Mounted Charging Station alias SPKLU tiang listrik Sebagai langkah konkret, BRIN turut mengembangkan prototipe stasiun pengisian cepat roda dua, yakni SONIK R2, dengan kapasitas hingga 6,6 kW. Teknologi ini diklaim mampu memangkas waktu pengisian secara signifikan. “Bahkan, pengisian bisa mencapai sekitar 20 menit untuk baterai berbasis LiFePO4,” ucap Eka. Dalam implementasinya, sistem pengisian tersebut memanfaatkan electric vehicle charge controller (EVCC) untuk menjembatani berbagai protokol komunikasi baterai dari beragam manufaktur. Saat ini, usulan standar tersebut masih dibahas bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN). BRIN juga terus berkoordinasi dengan kementerian, asosiasi industri, serta mitra swasta. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang